Pojok NTB – Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mendorong pengelolaan sampah yang lebih optimal di kawasan desa wisata. Upaya ini dilakukan melalui Focus Group Discussion (FGD) Desa Wisata Bersih dan Sehat yang digelar di Hotel Lombok Raya, Senin (27/10/2026).
Kegiatan tersebut melibatkan sekitar 50 peserta dari unsur pemerintah desa, kelompok sadar wisata (Pokdarwis), organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, pengelola bank sampah, serta media. FGD ini bertujuan meningkatkan pemahaman pengelola destinasi wisata mengenai cara memilah, memanfaatkan, dan mengolah sampah.
Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Disparekraf NTB, Chandra Aprinova, mengatakan persoalan sampah di destinasi wisata tidak hanya berkaitan dengan sistem pengelolaan, tetapi juga kesadaran pengunjung dalam menjaga kebersihan.
“Pertama, pengelolaannya kurang maksimal. Kedua, pengelolaannya sudah maksimal, tetapi yang membuang sampah juga lebih maksimal lagi,” ujar Chandra.
Menurutnya, perilaku pengunjung yang meninggalkan sampah setelah menikmati destinasi wisata masih menjadi tantangan. Salah satu contohnya adalah pengunjung pantai yang membawa makanan ringan, tetapi tidak membawa kembali sampahnya atau membuangnya pada tempat yang semestinya.
Chandra menilai, persoalan tersebut perlu ditangani melalui dua pendekatan sekaligus, yakni peningkatan kapasitas pengelola destinasi dan pembentukan kesadaran masyarakat maupun wisatawan.
“Kalau boleh saya bilang, sekitar 60 persen itu yang masih memengaruhi persoalan sampah kita,” katanya, merujuk pada faktor perilaku membuang sampah yang dinilainya turut memengaruhi kondisi kebersihan destinasi.
Selain memberikan edukasi, Disparekraf NTB juga berupaya mendukung pengelolaan sampah melalui penyediaan sarana kebersihan dan aksi nyata di lapangan.
Chandra menyebutkan, pihaknya telah menyalurkan tempat sampah berukuran besar yang dilengkapi roda ke sejumlah desa wisata, termasuk Desa Sade dan Sesaot. Di beberapa lokasi, bantuan tersebut diberikan sebanyak 10 unit, disertai sapu dan peralatan kebersihan lainnya.
Bahkan, kegiatan bersih-bersih telah dilakukan di Desa Sade dan Sesaot sebagai bagian dari upaya memastikan program tidak berhenti pada diskusi atau pelatihan semata.
“Jadi, tidak hanya di ruang kelas, tetapi kita juga melakukan aksi dan mendukung dengan bantuan fasilitas. Walaupun mungkin belum maksimal, setidaknya kita sudah melakukan,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, Disparekraf NTB berharap pemerintah desa dan Pokdarwis dapat memperkuat kolaborasi dalam menangani sampah di kawasan wisata masing-masing.
Pengelolaan sampah juga diharapkan dimulai dari tingkat rumah tangga dengan memilah sampah organik, anorganik, dan plastik agar lebih mudah diolah serta tidak seluruhnya berakhir di tempat pembuangan.
### Kebersihan Jadi Kunci Pariwisata Berkualitas
Chandra menegaskan, kebersihan merupakan salah satu faktor penting dalam membangun pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan. Destinasi yang bersih tidak hanya memberikan kenyamanan bagi wisatawan, tetapi juga mencerminkan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat setempat.
Menurutnya, peningkatan kualitas destinasi diharapkan dapat mendorong lebih banyak kunjungan wisatawan, memperpanjang lama tinggal, serta meningkatkan belanja wisatawan di daerah tujuan.
Karena itu, gerakan Desa Wisata Bersih dan Sehat diharapkan menjadi komitmen bersama antara pemerintah, pengelola destinasi, masyarakat, dan wisatawan.
“Harapan kami, desa wisata bersih dan sehat ini bukan sekadar wacana atau tema dalam diskusi, melainkan menjadi gerakan nyata bagi kita semua,” demikian Chandra.
Melalui langkah tersebut, Disparekraf NTB berharap persoalan sampah di destinasi wisata dapat ditekan sekaligus memperkuat daya tarik pariwisata NTB di tengah persaingan antardaerah.













