81 Tahun Merdeka: Pemuda Hari Ini Berjuang Untuk Apa?

Oleh: Muhammad Kharizma Prasetya, Mahasiswa Pascasarjana Universitas Mataram | Ketua PD KAMMI Mataram

Setiap 17 Agustus, kita mengibarkan Merah Putih. Kita mengikuti upacara, memasang bendera di depan rumah, menghadiri berbagai perlombaan, mengunggah ucapan kemerdekaan di media sosial, lalu kembali menjalani kehidupan seperti biasa.

Tidak ada yang salah dengan semua itu.

Namun, ada satu pertanyaan yang barangkali perlu kita ajukan kepada diri sendiri:

Setelah 81 tahun Indonesia merdeka, sebenarnya apa yang sudah kita perjuangkan?

Pertanyaan itu penting. Sebab kemerdekaan bukan sekadar peristiwa yang terjadi pada 17 Agustus 1945. Kemerdekaan adalah hasil dari perjalanan panjang, keberanian, pengorbanan, pemikiran, air mata, bahkan kehilangan yang harus dibayar oleh generasi sebelum kita.

Hari ini kita menikmati Indonesia dalam keadaan merdeka. Kita bebas belajar, berbicara, berkumpul, berorganisasi, menyampaikan kritik, dan bermimpi tentang masa depan.

Tetapi sering kali kita menikmati hasil perjuangan tanpa benar-benar memahami harga yang pernah dibayar untuk mendapatkannya.

Kita Menikmati Kopinya, Tetapi Lupa Siapa yang Menanam dan Meraciknya

Bayangkan secangkir kopi.

Ketika rasanya pahit, kita mencari apa yang salah. Ketika rasanya nikmat, kita memuji kopinya. Jarang kita memikirkan siapa yang menanam biji kopi, siapa yang memanen, siapa yang mengolah, siapa yang mengorbankan waktu dan tenaga hingga akhirnya secangkir kopi itu sampai di tangan kita.

Begitulah terkadang cara kita memandang kemerdekaan.

Kita menikmati hasilnya, tetapi lupa pada mereka yang ikut membayarnya.

Sejarah kemudian hanya menyisakan nama-nama besar. Padahal, di balik mereka ada begitu banyak manusia biasa yang berjuang tanpa pernah masuk buku sejarah.

Mereka mungkin tidak memiliki panggung.

Tidak memiliki kamera.

Tidak memiliki media sosial.

Tetapi mereka memiliki keberanian untuk melakukan sesuatu yang mungkin tidak akan pernah mereka nikmati hasilnya.

Dan hari ini, kita hidup dari hasil perjuangan mereka.

Tan Malaka Mengajarkan Kita Tentang Gagasan

Dari Tan Malaka, kita belajar bahwa sebuah gagasan terkadang lahir jauh sebelum zamannya siap menerimanya.

Ia dikenal sebagai salah satu pemikir penting dalam sejarah pergerakan Indonesia. Perjalanannya menunjukkan bahwa mencintai bangsa tidak selalu berarti memilih jalan yang paling mudah, paling aman, atau paling populer.

Ada kalanya seseorang harus tetap memegang keyakinan meskipun harus berjalan sendirian.

Bagi pemuda hari ini, pesannya sederhana:

Jangan takut memiliki gagasan. Tetapi jangan pula berhenti menguji gagasan dengan kenyataan.

Bangsa tidak dibangun oleh generasi yang hanya pandai mengikuti arus.

Sjahrir Mengingatkan: Politik Harus Tetap Memiliki Kemanusiaan

Dari Sutan Sjahrir, kita belajar bahwa politik tidak boleh kehilangan akal sehat dan kemanusiaan.

Perjalanan hidupnya menunjukkan bahwa perjuangan tidak selalu berakhir dengan tepuk tangan. Seseorang bisa berjasa bagi bangsa, tetapi kemudian harus menjalani fase kehidupan yang jauh dari sorotan.

Maka berbuat baik untuk Indonesia seharusnya tidak bergantung pada apakah kita akan dikenang atau tidak.

Sebab perjuangan yang paling tulus adalah perjuangan yang tetap dilakukan meskipun tidak ada kamera yang merekamnya.

Bung Hatta dan Pelajaran Tentang Integritas

Dari Bung Hatta, kita belajar tentang kesederhanaan dan integritas.

Ia bukan hanya dikenang sebagai Proklamator, tetapi juga sebagai sosok yang berusaha menjaga jarak antara kekuasaan dan kepentingan pribadi.

Di tengah zaman ketika jabatan terkadang dipandang sebagai fasilitas untuk memperkaya diri, keteladanan semacam ini menjadi semakin relevan.

Pemimpin seharusnya tidak bertanya:

”Apa yang bisa saya dapatkan dari bangsa ini?”

Tetapi:

“Apa yang bisa saya berikan kepada bangsa ini?”

Jenderal Sudirman: Amanah Tidak Berhenti Ketika Keadaan Sulit

Dari Jenderal Sudirman, kita belajar tentang keteguhan.

Ketika Republik berada dalam situasi yang sulit, perjuangan belum selesai, dan masa depan bangsa belum pasti, ia tetap menjalankan tanggung jawabnya.

Di sinilah kita memahami bahwa kepemimpinan bukan tentang siapa yang paling banyak berbicara.

Kepemimpinan adalah tentang siapa yang tetap hadir ketika keadaan menjadi sulit.

Hari ini kita mungkin tidak diminta berperang.

Tetapi kita tetap dituntut untuk bertanggung jawab.

Natsir dan Pelajaran Tentang Perbedaan

Dari Mohammad Natsir, kita belajar bahwa perbedaan pandangan tidak harus berubah menjadi permusuhan.

Indonesia dibangun oleh banyak gagasan, banyak kelompok, dan banyak latar belakang.

Perbedaan adalah kenyataan.

Yang menjadi persoalan adalah ketika perbedaan membuat kita berhenti melihat tujuan yang lebih besar.

Hari ini, ketika perdebatan politik begitu mudah berubah menjadi saling mencaci, ketika perbedaan pilihan membuat persaudaraan retak, kita perlu kembali mengingat bahwa Indonesia terlalu besar untuk dikorbankan demi ego kelompok.

Lalu, Apa yang Tersisa untuk Pemuda Hari Ini?

Pemuda sering disebut sebagai generasi penerus bangsa.

Tetapi menjadi pemuda tidak otomatis menjadikan seseorang sebagai penerus perjuangan.

Usia muda bukan jaminan keberanian.

Menjadi pemuda berarti bersedia belajar ketika yang lain merasa sudah tahu.

Berani berpikir ketika yang lain hanya ikut-ikutan.

Berani mengkritik ketika ada yang keliru.

Berani mengakui kesalahan ketika diri sendiri yang salah.

Dan yang paling penting, bersedia bekerja meskipun tidak ada yang memberikan tepuk tangan.

Kita mungkin tidak lagi diminta mengangkat senjata seperti generasi terdahulu.

Tetapi hari ini kita menghadapi musuh yang tidak kalah berbahaya:

kebodohan, korupsi, apatisme, intoleransi, kemiskinan, ketidakadilan, dan hilangnya integritas.

Jika dahulu para pejuang mempertahankan kemerdekaan dengan perjuangan fisik, maka tugas generasi hari ini adalah mempertahankan makna kemerdekaan melalui ilmu, integritas, kepedulian, dan kerja nyata.

Melawan kebodohan dengan pendidikan.

Melawan korupsi dengan kejujuran.

Melawan apatisme dengan kepedulian.

Melawan perpecahan dengan persaudaraan.

Dan melawan ketidakadilan dengan keberanian untuk bersuara.

Kemerdekaan Bukan Garis Akhir

Dalam perspektif Islam, generasi terbaik bukan hanya mereka yang pandai berbicara tentang perubahan, tetapi mereka yang bersedia memikul amanah.

Nabi Muhammad SAW membangun masyarakat dengan keteladanan, kejujuran, musyawarah, ilmu, dan akhlak.

Artinya, perubahan tidak cukup hanya dengan slogan.

Perubahan membutuhkan manusia yang bersedia mengerjakannya.

Maka, di tengah perayaan kemerdekaan tahun ini, mungkin kita perlu berhenti sejenak.

Jangan hanya bertanya apakah Indonesia sudah maju.

Jangan hanya bertanya apa yang negara berikan kepada kita.

Tetapi tanyakan juga:

Apa yang sudah kita berikan kepada Indonesia?

Sebab kemerdekaan bukan hadiah.

Kemerdekaan adalah amanah.

Dan setiap generasi memiliki kewajiban untuk menjaganya.

Para pendahulu telah menyerahkan Indonesia kepada kita dalam bentuk kemerdekaan.

Pertanyaannya sekarang:

Ketika tiba waktunya kita menyerahkan Indonesia kepada generasi setelah kita, Indonesia seperti apa yang akan kita wariskan?

Jangan sampai generasi setelah kita hanya mengenal kita sebagai generasi yang pandai merayakan kemerdekaan, tetapi lupa bagaimana cara memperjuangkannya.

Karena pada akhirnya, ukuran cinta kepada Indonesia bukan seberapa keras kita meneriakkan “Merdeka!”

Melainkan:

seberapa sungguh-sungguh kita bekerja agar kemerdekaan itu benar-benar dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia.

Dirgahayu Republik Indonesia.

81 tahun merdeka.

Belum selesai berjuang.