Pojok NTB – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mengirim tim medis untuk membantu penanganan korban gempa di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, Lalu Hamzi Fikri, mengatakan total sekitar 55 personel diberangkatkan dalam tim awal tersebut. Mereka terdiri dari dokter spesialis, dokter umum, perawat, bidan, apoteker, asisten apoteker, epidemiolog, psikolog klinis, tenaga laboratorium hingga petugas sanitasi.
“Yang diberangkatkan ada dokter spesialis, dokter umum, perawat, bidan, apoteker, psikolog klinis, tenaga laboratorium dan sanitasi. Totalnya sekitar 55 orang termasuk tenaga pendukung,” kata Hamzi Fikri.
Tim tersebut akan bergabung dengan personel yang lebih dulu diberangkatkan dari Bima dan Sumbawa. Di lokasi, sebagian tenaga medis akan ditempatkan di rumah sakit, sementara sebagian lainnya bergerak secara mobile ke wilayah-wilayah yang terdampak gempa.
NTB juga telah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi Bali dan tim kesehatan di NTT untuk memastikan penanganan medis berjalan terpadu.
Untuk mendukung pelayanan kesehatan, NTB memberangkatkan empat ambulans. Selain itu, satu truk berisi berbagai kebutuhan medis juga disiapkan, termasuk emergency kit dan perlengkapan medis untuk anak-anak.
“Emergency kit ini sangat berguna untuk kondisi darurat. Ada juga perlengkapan untuk anak-anak dan logistik medis lainnya,” jelasnya.
Hamzi menyebut tim medis NTB akan menempuh perjalanan sekitar dua hari menuju lokasi. Mereka direncanakan bertugas selama 6 hingga 7 hari, kemudian kembali dengan waktu perjalanan sekitar dua hari.
Penanganan awal akan difokuskan pada korban yang mengalami trauma akibat gempa, termasuk patah tulang dan berbagai luka. Selain penanganan fisik, tim juga memberikan perhatian terhadap kondisi psikologis korban melalui kehadiran psikolog klinis untuk trauma healing.
Menurut Hamzi, kondisi fasilitas kesehatan di sejumlah wilayah terdampak juga menjadi perhatian karena sebagian fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama (FKTP) tidak dapat beroperasi akibat kerusakan bangunan.
“Korban yang selamat juga membutuhkan intervensi medis, baik dari sisi fisik maupun psikologis. Karena itu kita hadir di sana,” katanya.
Untuk memastikan tim dapat langsung bekerja di lokasi terdampak, Dinas Kesehatan NTB juga menyiapkan tenda dan seluruh kebutuhan pendukung.
“Kami tidak berencana tidur di hotel. Kami sudah siapkan tenda, semua logistik juga sudah disiapkan,” ungkap Hamzi.
Ia mengatakan pengalaman NTB saat menghadapi gempa sebelumnya menjadi salah satu alasan tim bergerak cepat membantu NTT. Penanganan korban gempa, menurutnya, membutuhkan kehadiran tenaga medis sejak fase awal, bukan menunggu kondisi memasuki masa pemulihan.
Hamzi memastikan dirinya juga akan turun langsung ke lokasi. Ia dijadwalkan berangkat pada Senin pagi untuk mendampingi tim medis NTB dalam penanganan korban gempa Flores.












