Pojok NTB – Di tengah tahun yang penuh tantangan dan transisi besar, PT Amman Mineral Internasional Tbk justru mencatat capaian yang mencuri perhatian: kinerja emas yang melampaui ekspektasi.
Dalam laporan resmi yang dirilis di Jakarta pada 26 Maret 2026, AMMAN menunjukkan bahwa komoditas emas menjadi salah satu pilar penting dalam menjaga kinerja perusahaan sepanjang 2025—bahkan saat tekanan operasional sempat terjadi di berbagai lini.
Sepanjang tahun 2025, AMMAN mencatat produksi emas sebesar 102.758 ons dalam bentuk konsentrat, serta 124.723 ons emas murni dari fasilitas pemurnian. Tak hanya itu, angka ini bahkan melampaui target tahunan hingga 14%, menjadikan emas sebagai komoditas dengan performa terbaik perusahaan.
Capaian ini terbilang impresif, mengingat 2025 merupakan periode transisi menuju penambangan Fase 8 yang identik dengan kadar bijih lebih rendah.
Namun di balik keterbatasan tersebut, emas justru tampil sebagai “penyelamat”, menopang kinerja perusahaan ketika produksi tembaga berada di bawah target.
Tahun 2025 juga menjadi momen bersejarah bagi AMMAN. Untuk pertama kalinya, perusahaan berhasil memproduksi emas murni melalui fasilitas Precious Metal Refinery (PMR) yang mulai beroperasi pada pertengahan Juli.
Langkah ini menandai transformasi besar AMMAN—dari sekadar perusahaan tambang menjadi produsen terintegrasi penuh dari hulu ke hilir, termasuk dalam pengolahan emas.
Direktur Utama AMMAN, Arief Sidarto, menyebut pencapaian ini sebagai bagian penting dari strategi jangka panjang perusahaan.
“Tahun 2025 adalah fase krusial. Kami tidak hanya menghadapi tantangan operasional, tetapi juga berhasil menyelesaikan transformasi menjadi produsen tembaga dan emas terintegrasi penuh,” ujarnya.
Kontribusi emas juga terlihat signifikan dari sisi pendapatan. Dari total penjualan bersih sebesar US$1,847 miliar, sekitar US$454 juta berasal dari emas murni—angka yang cukup besar mengingat produksi baru dimulai pada paruh kedua tahun ini.
Menariknya, kinerja penjualan emas dan produk lainnya melonjak tajam di akhir tahun. Kuartal keempat (Q4) bahkan mencatat rekor, dengan kontribusi sekitar 70% dari total penjualan tahunan.
Hal ini didorong oleh mulai stabilnya operasi smelter dan fasilitas pemurnian, yang sebelumnya sempat mengalami penghentian sementara untuk perbaikan.
Keberhasilan produksi emas murni tidak lepas dari strategi hilirisasi yang agresif. AMMAN kini tidak lagi hanya menjual konsentrat, tetapi juga produk bernilai tambah seperti katoda tembaga dan emas murni.
Transformasi ini menjadi kunci dalam menjaga margin perusahaan. Terbukti, meski laba bersih turun menjadi US$258 juta, perusahaan tetap mampu mencatat margin EBITDA tinggi sebesar 57%.
Artinya, secara operasional, bisnis AMMAN tetap kuat—dan emas memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan tersebut.
Di sisi lain, tantangan tetap ada. Penurunan kadar bijih pada Fase 8, jarak angkut yang lebih jauh, hingga kenaikan biaya operasional sempat menekan kinerja produksi secara keseluruhan.
Produksi emas sendiri secara tahunan memang mengalami penurunan dibanding 2024. Namun, capaian yang melampaui target menunjukkan bahwa strategi operasional perusahaan tetap berjalan efektif.
Ke depan, AMMAN menargetkan stabilitas operasi smelter serta penyelesaian berbagai proyek besar seperti pembangunan pembangkit listrik dan ekspansi fasilitas produksi.
Di tengah dinamika global, emas tidak hanya menjadi komoditas bernilai tinggi, tetapi juga simbol stabilitas dan daya tahan bisnis. Bagi AMMAN, emas kini bukan sekadar produk sampingan—melainkan pilar utama dalam strategi pertumbuhan jangka panjang.
Dengan fondasi operasional yang semakin kuat dan transformasi yang hampir rampung, AMMAN optimistis dapat terus meningkatkan produksi dan nilai tambah emas di masa depan.
Pada akhirnya, di balik tantangan besar tahun 2025, satu hal menjadi jelas: emas telah menjadi cahaya terang yang menuntun langkah AMMAN menuju masa depan yang lebih solid dan kompetitif di tingkat global.












