Pojok NTB – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menyiapkan transformasi Rumah Sakit Mutiara Sukma menjadi rumah sakit umum dengan konsep yang lebih modern dan ramah bagi masyarakat.
Kepala Bappeda NTB, Baiq Nelly Yuniarti, mengatakan rencana tersebut akan dilakukan secara bertahap hingga 2028. Salah satu bagian utama transformasi adalah pembangunan gedung terpadu dengan konsep hingga tujuh lantai.
“Konsep kita tujuh lantai. Yang sudah disetujui sampai hari ini pembiayaan dari Kementerian Kesehatan untuk empat lantai. Kita daerah harus berpikir untuk tiga lantainya,” ujar Nelly.
Selain pembangunan gedung, Pemprov NTB juga akan membahas kebutuhan perluasan lahan serta skema pembiayaan untuk menyelesaikan keseluruhan proyek.
Tetap Fokus pada Layanan Jiwa
Meski diarahkan menjadi rumah sakit umum, layanan kesehatan jiwa tetap menjadi bagian penting dari RS Mutiara Sukma.
Nelly menjelaskan perubahan nama dari rumah sakit jiwa menjadi Rumah Sakit Mutiara Sukma merupakan bagian dari upaya menghilangkan stigma dan membuat masyarakat merasa lebih nyaman mendapatkan pelayanan kesehatan.
“Pelayanan utamanya adalah jiwa. Tetapi di dalam namanya sudah jiwanya kita hilangkan supaya lebih ramah ke masyarakat,” katanya.
Pemprov NTB juga ingin menjadikan rumah sakit tersebut memiliki konsep yang berbeda dari rumah sakit pada umumnya. Bahkan, rumah sakit ini diarahkan untuk mendukung pengembangan wellness tourism di NTB.
Menurut Nelly, keberadaan layanan kesehatan dengan kompetensi tertentu akan menjadi bagian penting dalam mendukung sektor pariwisata, khususnya wisata kesehatan.
Mulai Dibangun 2027
Transformasi RS Mutiara Sukma telah disusun dalam beberapa tahapan. Pada 2025 dilakukan perubahan nama, kemudian pada 2026 Pemprov NTB menargetkan pemenuhan persyaratan terkait kemampuan pelayanan berbasis kompetensi.
Selanjutnya, pada 2027 pembangunan gedung terpadu ditargetkan mulai berjalan. Rencananya mencakup gedung empat lantai, gedung rawat inap tiga lantai, poliklinik non-jiwa, serta pemenuhan alat kesehatan.
Kapasitas tempat tidur juga akan ditingkatkan. Saat ini RS Mutiara Sukma memiliki sekitar 115 tempat tidur, sementara target ke depan minimal mencapai 200 tempat tidur. Pemprov menargetkan penambahan sekitar 100 tempat tidur sehingga kapasitasnya mencapai sekitar 215 tempat tidur.
Kemudian pada 2028, pemerintah menargetkan integrasi layanan umum dan penyelesaian transformasi RS Mutiara Sukma menjadi rumah sakit umum sesuai klasifikasi berbasis kompetensi.
Total Kebutuhan Rp227 Miliar
Untuk keseluruhan pembangunan dan transformasi, kebutuhan anggaran sementara diperkirakan mencapai sekitar Rp227 miliar.
Kementerian Kesehatan akan membiayai pembangunan gedung empat lantai, sementara tiga lantai lainnya dan sejumlah fasilitas pendukung menjadi tanggung jawab Pemprov NTB.
Pembiayaan juga akan dilakukan secara gotong royong melalui berbagai sumber, termasuk APBD, DBHCHT, BLUD, serta dukungan pemerintah pusat.
Nelly menegaskan, Pemprov NTB tidak menyiapkan opsi pembiayaan melalui pinjaman baru untuk proyek tersebut.
“Ini peroyokan dengan Kemenkes,” ujarnya, menggambarkan pola pembiayaan yang akan dilakukan secara bersama-sama.
Dengan transformasi ini, RS Mutiara Sukma diharapkan tidak hanya memperkuat layanan kesehatan jiwa, tetapi juga berkembang menjadi rumah sakit umum modern yang mendukung kebutuhan kesehatan masyarakat sekaligus sektor wellness tourism NTB.












