Sade Mulai Direkonstruksi, Masjid dan Museum Segera Dibangun

Pojok NTB – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai mematangkan rencana rekonstruksi kawasan adat Sade, Lombok Tengah, pascakebakaran. Pemerintah menargetkan sejumlah fasilitas penting segera dibangun, sekaligus mengembalikan aktivitas ekonomi masyarakat.

Asisten Pemprov NTB, Lalu Muhammad Faozal, mengatakan terdapat tiga fokus utama dalam penataan kembali Sade. Pertama, memulihkan aktivitas ekonomi masyarakat agar warga dapat kembali berusaha dan memperoleh penghasilan.

“Dalam waktu dekat kita akan membersihkan pembangunan museum dan fasilitas ekonomi lainnya, tempat berusaha dan lain-lain yang memang bisa menghidupi dulu masyarakat yang ada di Sade,” ujar Faozal.

Fokus kedua adalah menyelesaikan master plan kawasan Sade secara utuh, termasuk fasilitas umum dan sarana pendukung lainnya.

Sejumlah pembangunan bahkan telah disiapkan. Masjid besar Sade, museum, balai aktivitas ekonomi, serta toilet akan segera dikerjakan.

Untuk tempat tinggal warga, relokasi menjadi salah satu opsi yang disiapkan pemerintah. Faozal menyebut terdapat 40 unit rumah yang telah dibangun sejak 2018 di lokasi depan SMK, di samping kantor desa.

Namun, pemerintah masih memastikan kelayakan rumah tersebut sebelum digunakan. Penambahan unit rumah juga tengah direncanakan.

“Kita sedang mencoba mendekati masyarakat supaya mau menggunakan rumah itu sebelum rumah yang ada di dalam kawasan Sade sendiri dimulai rekonstruksinya,” katanya.

Pemerintah juga memastikan aspek mitigasi bencana menjadi bagian dari desain pembangunan kembali kawasan tersebut, termasuk keamanan instalasi dan fasilitas di setiap bangunan.

Menariknya, pembangunan sejumlah fasilitas Sade akan dilakukan melalui kolaborasi pemerintah dengan pihak swasta dan donatur.

Faozal menyebut MIM Foundation akan membangun masjid secara keseluruhan. Sementara museum akan dibangun melalui dukungan Otsuka dari Jepang, termasuk fasilitas ekonomi di dalamnya.

Adapun fasilitas lainnya akan mendapat dukungan dari sejumlah pihak, termasuk Blue Bird dan Dharma Lautan Utama untuk pembangunan toilet.

Seluruh desain pembangunan saat ini dikoordinasikan Pemprov NTB dengan melibatkan Fakultas Teknik Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) NTB, termasuk aspek kelistrikan dan instalasi pemadam kebakaran.

Faozal mengatakan, berdasarkan perhitungan awal pascabencana, kebutuhan rekonstruksi kawasan Sade diperkirakan mencapai Rp30 miliar.

Angka tersebut kini masih dimatangkan dengan menghitung kembali kebutuhan pembangunan setelah sejumlah fasilitas mendapatkan bantuan dari pihak swasta.

“Yang sudah terbangun kita kalkulasi. Yang tidak perlu dibangun lagi kan tidak dibangun. Kita lihat yang belum dibangun apa saja,” jelasnya.

Pemerintah menargetkan fasilitas yang berkaitan langsung dengan aktivitas ekonomi masyarakat, termasuk museum dan sarana pendukung wisata, dapat segera diselesaikan.

Setelah seluruh proses rekonstruksi selesai, pengelolaan kawasan dan aktivitas ekonomi Sade akan tetap dikembalikan kepada masyarakat setempat.

Faozal mengatakan masyarakat akan kembali dilibatkan dan mendapatkan pelatihan untuk menjalankan aktivitas ekonomi, termasuk menenun dan berbagai kegiatan wisata.

“Masyarakat Sade sendiri yang mengelola. Kita akan latih ulang mereka,” katanya.

Museum yang akan dibangun berukuran sekitar 8 x 10 meter. Di dalamnya akan ditampilkan perjalanan Sade sebelum dan sesudah bencana sehingga menjadi bagian dari narasi sejarah kawasan adat tersebut.

Dengan konsep tersebut, pemerintah berharap “New Sade” nantinya tidak hanya kembali berdiri, tetapi juga lebih aman, memiliki fasilitas yang memadai, dan mampu menghidupkan kembali ekonomi masyarakat setempat.