Pojok NTB — Perdebatan publik soal angka pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Barat (NTB) sepanjang 2025 akhirnya menemukan titik terang. Dua angka yang ramai dibicarakan, yakni 12,49 persen dan 3,22 persen, ternyata sama-sama benar, namun mengukur sisi yang berbeda dari perjalanan ekonomi daerah.
Badan Pusat Statistik (BPS) NTB menjelaskan, pertumbuhan 12,49 persen mencerminkan lonjakan ekonomi pada Triwulan IV 2025 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan momentum kebangkitan di penghujung tahun. Sementara pertumbuhan 3,22 persen adalah capaian kumulatif selama setahun penuh, yang merekam dinamika ekonomi NTB sejak awal hingga akhir 2025.
Sepanjang tahun, ekonomi NTB memang sempat menghadapi tekanan berat. Pada Triwulan I dan II, kontraksi terjadi akibat penurunan tajam produksi sektor pertambangan, yang selama ini menjadi salah satu penopang utama PDRB. Kondisi mulai membaik memasuki Triwulan III seiring beroperasinya smelter dan kembalinya ekspor emas. Puncaknya terjadi di Triwulan IV, ketika pertumbuhan melonjak tajam hingga dua digit.
Menariknya, BPS mencatat bahwa jika sektor tambang dikeluarkan dari perhitungan, pertumbuhan ekonomi NTB justru mencapai 8,33 persen secara kumulatif dan 13,7 persen secara tahunan. Ini menandakan sektor non-tambang seperti pertanian, perdagangan, industri pengolahan, jasa, dan konsumsi rumah tangga tumbuh solid dan menjadi bantalan utama saat sektor tambang mengalami transisi.
Dalam konteks inilah, kinerja satu tahun pemerintahan Iqbal–Dinda patut dibaca secara proporsional. Dari titik terendah minus 1,47 persen di awal tahun, ekonomi NTB mampu ditutup dengan pertumbuhan positif 3,22 persen. Artinya, terjadi lonjakan pemulihan sebesar 4,69 poin—enam kali lipat dari target kenaikan yang dirancang dalam RPJMD.
Capaian ini menegaskan bahwa pemulihan ekonomi NTB tidak semata bergantung pada sektor tambang. Sektor pertanian mencatat lonjakan produksi padi, perdagangan dan jasa kembali menggeliat, pariwisata menunjukkan tren positif, sementara industri pengolahan tumbuh drastis seiring mulai beroperasinya smelter. Bahkan, sektor industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan terbesar sepanjang 2025.
Dari sisi kesejahteraan, PDRB per kapita NTB meningkat signifikan hingga mencapai sekitar Rp33,67 juta per orang. Indikator sosial juga membaik, ditandai dengan pertumbuhan konsumsi rumah tangga, penurunan pengangguran, serta peningkatan pekerja formal.
Semua ini menunjukkan bahwa 2025 adalah tahun transisi sekaligus fondasi transformasi ekonomi NTB. Bukan sekadar mengejar angka, melainkan membangun struktur ekonomi yang lebih berimbang, inklusif, dan berpihak pada rakyat.
Pertumbuhan 3,22 persen adalah catatan perjalanan, sementara lonjakan 12,49 persen menjadi sinyal kuat kebangkitan. Dengan arah kebijakan yang tepat, momentum ini diyakini menjadi pijakan penting menuju ekonomi NTB yang lebih stabil, tangguh, dan berkelanjutan di tahun-tahun mendatang.












