Pojok NTB – Pagi itu, suara tawa anak-anak terdengar dari halaman Sekolah Rakyat 4 Gunungsari, Lombok Barat. Di antara mereka, seorang anak laki-laki berperawakan kecil tampak tersenyum lebar. Namanya Abdu Rahman. Senyum itu bukan sekadar tanda kegembiraan sesaat, melainkan cermin perubahan besar dalam hidupnya.
Bagi Abdu, Sekolah Rakyat bukan hanya tempat belajar. Ia adalah rumah kedua—tempat di mana kebutuhan dasar terpenuhi, perhatian diberikan, dan mimpi perlahan tumbuh.
“Saya senang bersekolah di Sekolah Rakyat ini karena teman-teman banyak, ibu gurunya baik, dan ditanggung segalanya. Makan, tidur, dan alat-alat sekolah,” ujar Abdu polos namun penuh rasa syukur.
Kalimat sederhana itu menyimpan cerita panjang tentang kehidupan yang dulu jauh dari kata layak. Abdu mengingat betul bagaimana hari-harinya sebelum bersekolah di Sekolah Rakyat.
“Kalau dulu makannya cuma seadanya, nasi kering pakai daun kelor. Nasinya juga keras,” kenangnya lirih.
Kini, rutinitas Abdu berubah. Makanan hangat dan bergizi tersaji teratur. Ia tidak lagi khawatir soal perut kosong, tidak lagi memikirkan apakah esok bisa makan atau tidak. Di Sekolah Rakyat, semuanya tertata, nyaman, dan penuh kepedulian.
“Kalau di sini enak semuanya. Nyaman,” katanya singkat, namun sarat makna.
Di balik perubahan itu, ada proses adaptasi yang tidak selalu mudah. Dian Galuh Pratiwi, salah satu guru Sekolah Rakyat, mengisahkan bahwa bulan pertama menjadi masa yang cukup berat bagi sebagian anak.
“Sebulan pertama banyak anak yang homesick. Kalau tidak homesick, keluhannya sakit perut,” tuturnya.
Namun, keluhan tersebut bukan karena kekurangan, melainkan justru karena tubuh anak-anak mulai beradaptasi dengan pola hidup yang baru—pola hidup yang lebih teratur dan layak.
“Sebelumnya jadwal makan mereka tidak teratur. Kadang makan, kadang juga tidak. Di sini semuanya diatur. Jam 7 pagi sarapan, lalu snack, makan siang ba’da zuhur, dan makan malam ba’da isya,” jelas Dian.
Perubahan pola makan ini membuat tubuh anak-anak menyesuaikan diri. Bahkan, momen-momen kecil sering menjadi cerita yang mengharukan.
“Ada anak yang bilang, ‘Bu, di sini saya makan ayam loh. Biasanya di rumah makan nasi kering yang direbus lagi,’” kata Dian sambil tersenyum.
Pelan tapi pasti, keluhan berkurang. Anak-anak mulai lebih sehat, lebih ceria, dan lebih fokus belajar. Sekolah Rakyat bukan hanya memberikan pendidikan, tetapi juga menghadirkan rasa aman dan martabat bagi anak-anak yang sebelumnya hidup dalam keterbatasan.
Bagi Abdu, Sekolah Rakyat telah membuka pintu mimpi. Dengan mata berbinar, ia menyampaikan harapan yang sederhana namun penuh makna.
“Semoga guru-guru saya tetap sehat dan rezekinya lancar. Nanti kalau saya sudah sukses, saya ingin bertemu Pak Prabowo,” ujarnya sambil tersenyum.
Harapan itu mungkin terdengar kecil, namun sesungguhnya besar. Ia lahir dari seorang anak yang kini percaya bahwa masa depannya layak diperjuangkan.
Kisah Abdu Rahman adalah satu dari sekian banyak cerita tentang bagaimana pendidikan yang berpihak pada kemanusiaan mampu mengubah hidup. Dari sepiring nasi kering menuju makanan bergizi, dari rasa cemas menuju rasa aman, dari keterbatasan menuju harapan.












