Inflasi NTB 3,78 Persen, NTP Petani Naik dan Ekspor Melonjak Tajam

Pojok NTB – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat mencatat inflasi tahunan (year on year/y-on-y) NTB pada Mei 2026 mencapai 3,78 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,18. Di tengah kenaikan harga sejumlah komoditas, daya beli petani justru mengalami peningkatan yang ditandai dengan naiknya Nilai Tukar Petani (NTP), sementara sektor ekspor mencatat lonjakan signifikan.

Kepala BPS Provinsi NTB, Dr. Drs. Wahyudin, MM, menjelaskan bahwa inflasi tahunan terjadi akibat kenaikan harga pada seluruh kelompok pengeluaran. Kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang utama dengan inflasi sebesar 5,10 persen. Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami kenaikan tertinggi mencapai 14,79 persen.

Meski secara tahunan terjadi inflasi, pada Mei 2026 NTB mengalami deflasi bulanan (month to month) sebesar 0,08 persen. Kondisi ini dipicu oleh turunnya harga sejumlah komoditas pangan seperti daging ayam ras, tomat, kubis, dan ikan tongkol. Penurunan tarif angkutan udara akibat kebijakan pemerintah yang menanggung PPN tiket pesawat juga turut menekan laju inflasi.

Di sektor pertanian, NTP NTB pada Mei 2026 tercatat sebesar 130,44 atau naik 1,91 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan ini menunjukkan membaiknya kemampuan dan daya beli petani karena harga hasil pertanian meningkat lebih cepat dibandingkan biaya yang harus mereka keluarkan.

Kenaikan NTP terutama didorong oleh meningkatnya harga gabah, jagung, sapi potong, bawang merah, dan kentang. Menjelang Hari Raya Idul Adha, permintaan hewan kurban yang meningkat turut mendorong kenaikan harga ternak. Seluruh subsektor pertanian di NTB juga mencatat NTP di atas angka 100, menandakan kondisi usaha tani yang relatif menguntungkan.

Dari sektor pariwisata, tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang pada April 2026 mencapai 36,06 persen, naik dibandingkan Maret 2026. Kenaikan tersebut sejalan dengan meningkatnya jumlah wisatawan mancanegara yang masuk melalui Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM).

Jumlah wisatawan mancanegara pada April 2026 tercatat sebanyak 8.686 orang atau meningkat 35,13 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara itu, jumlah wisatawan nusantara mencapai 1,2 juta orang, meskipun mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu akibat pergeseran waktu libur Lebaran.

Pada sektor transportasi, aktivitas pelabuhan menunjukkan tren positif. Jumlah barang yang dimuat melalui pelabuhan laut meningkat hingga 244,44 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Lonjakan ini terutama didorong oleh meningkatnya pengiriman jagung dari sejumlah pelabuhan di Pulau Sumbawa serta aktivitas pengiriman batu split dari Labuhan Lombok.

Sementara itu, kinerja perdagangan luar negeri NTB mencatat capaian luar biasa. Nilai ekspor pada April 2026 mencapai US$545,19 juta atau melonjak 1.294,11 persen dibandingkan April 2025. Secara kumulatif Januari–April 2026, nilai ekspor NTB mencapai US$1,25 miliar, meningkat lebih dari 2.100 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Ekspor NTB masih didominasi komoditas tambang nonmigas, terutama bijih tembaga dan konsentratnya yang menyumbang lebih dari 94 persen total ekspor. Tiongkok menjadi tujuan utama ekspor dengan kontribusi mencapai 94,37 persen.

Di sisi lain, nilai impor NTB pada April 2026 tercatat sebesar US$7,95 juta atau turun 66,74 persen dibandingkan April 2025. Penurunan ini dipengaruhi berkurangnya impor barang konsumsi, barang modal, serta bahan baku dan penolong.

Secara umum, data BPS menunjukkan perekonomian NTB pada awal 2026 ditopang oleh membaiknya sektor pertanian, meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara, aktivitas logistik yang tumbuh, serta kinerja ekspor yang melonjak tajam. Namun demikian, pengendalian harga sejumlah komoditas strategis tetap menjadi perhatian untuk menjaga stabilitas inflasi daerah.