Pojok NTB – Desa Aik Berik, Kabupaten Lombok Tengah, masuk tiga besar nominasi Desa Ramah Muslim (PRM) dari lima provinsi. Desa yang dikenal dengan potensi wisata alamnya ini dinilai memiliki daya tarik melalui penerapan aturan adat yang menjaga nilai-nilai budaya dan kenyamanan wisatawan.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Aik Berik, Rodian Fahlevi, mengatakan pihaknya mendukung program Desa Ramah Muslim yang diinisiasi Bank Indonesia (BI). Menurutnya, prinsip wisata ramah muslim sebenarnya telah diterapkan masyarakat Aik Berik sejak beberapa tahun lalu.
Salah satu bentuk penerapannya adalah layanan ojek syariah. Dalam layanan tersebut, pengemudi perempuan mengantar penumpang perempuan, sedangkan pengemudi laki-laki melayani penumpang laki-laki.
“Kami sangat mendukung karena program ini sejalan dengan apa yang sudah kami lakukan sejak jauh-jauh hari. Kami juga mengapresiasi karena Aik Berik masuk tiga besar nominasi dari lima provinsi,” kata Rodian.
Ia menjelaskan, masyarakat Aik Berik memiliki aturan adat atau awik-awik yang menjadi pedoman dalam aktivitas pariwisata. Aturan tersebut tidak hanya berkaitan dengan pelayanan wisatawan, tetapi juga upaya menjaga budaya lokal agar tidak tergerus pengaruh budaya luar.
Salah satu aturan yang diterapkan berkaitan dengan pelaksanaan salat Jumat. Pada pukul 11.00 hingga 13.00 WITA, pemandu wisata laki-laki tidak diperbolehkan beraktivitas, sehingga pelayanan pemanduan pada waktu tersebut dilakukan oleh perempuan.
Pelanggaran terhadap aturan itu dapat dikenai sanksi berupa larangan beraktivitas di kawasan wisata selama dua hingga tiga minggu.
Menurut Rodian, penerapan aturan tersebut menjadi salah satu keunikan Aik Berik yang menarik perhatian pihak terkait untuk mengikutsertakan desa itu dalam ajang Desa Ramah Muslim.
Dari sisi kunjungan, Rodian menyebut wisatawan asal Eropa masih mendominasi kunjungan wisatawan mancanegara ke Aik Berik. Beberapa negara asal wisatawan yang banyak berkunjung di antaranya Jerman, Belanda, dan Prancis.
Sementara itu, wisatawan asal Malaysia dan Singapura cenderung mengalami peningkatan pada periode tertentu, khususnya November hingga Januari. Wisatawan dari kawasan Timur Tengah juga berkunjung pada musim-musim tertentu.
“Beberapa bulan terakhir, wisatawan dari Turki juga cukup banyak berkunjung ke tempat kami,” ujarnya.
Keberagaman asal wisatawan tersebut menjadi peluang bagi Aik Berik untuk mengembangkan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan pelancong, termasuk wisatawan muslim dari berbagai negara.
Meski berhasil masuk tiga besar nominasi, Rodian menegaskan bahwa pengembangan wisata ramah muslim di Aik Berik masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satu yang menjadi perhatian utama adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).
Menurutnya, masyarakat dan pelaku wisata perlu dibekali kemampuan komunikasi, kesiapan mental dalam melayani wisatawan, serta penguasaan bahasa asing.
Saat ini, kemampuan bahasa Inggris dinilai masih perlu ditingkatkan dan diperluas dengan mempelajari bahasa lain, termasuk bahasa Arab.
“Kami belum bisa berpuas diri. SDM masih sangat dibutuhkan, termasuk dari segi kesiapan mental dan bahasa. Ke depan, kami ingin mendorong mereka belajar bahasa Arab atau bahasa asing lainnya untuk memperkuat pelayanan wisata ramah muslim,” jelasnya.
Rodian berharap, masuknya Aik Berik dalam nominasi Desa Ramah Muslim dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas destinasi, memperluas pasar wisatawan, sekaligus menjaga nilai-nilai budaya lokal.
Dengan perpaduan potensi wisata alam, aturan adat, dan pelayanan yang berorientasi pada kebutuhan wisatawan, Aik Berik diharapkan mampu berkembang sebagai destinasi wisata ramah muslim yang semakin dikenal di tingkat nasional maupun internasional.












