Kota Tua Ampenan: Tempat Wisatawan Berfoto Lalu Pergi

Pojok NTB – Kota Tua Ampenan di Kota Mataram seharusnya menjadi mahkota wisata sejarah di Nusa Tenggara Barat. Kawasan ini bukan sekadar deretan bangunan tua, melainkan saksi hidup perjalanan panjang Pulau Lombok—dari pelabuhan dagang, pusat peradaban multietnis, hingga titik awal geliat ekonomi masa lalu. Namun hari ini, pesonanya seperti berjalan setengah hati: indah di kamera, tapi menyimpan banyak luka di balik realita.

Dahulu, Kota Tua Ampenan adalah pusat aktivitas paling sibuk di Lombok. Sejak abad ke-18 hingga masa kolonial Belanda, kawasan ini berkembang sebagai pelabuhan utama yang menghubungkan Lombok dengan dunia luar. Berbagai komoditas seperti beras, kapas, hingga kacang hijau diekspor dari sini, sementara barang impor seperti sutra dan logam masuk melalui pelabuhan Ampenan  . Bahkan pada masa Belanda, Ampenan menjadi pusat administrasi dan perdagangan penting di wilayah tersebut  .

Keunikan Ampenan tidak hanya terletak pada sejarahnya, tetapi juga pada keberagaman budaya. Kawasan ini menjadi titik pertemuan berbagai etnis—Arab, Tionghoa, Melayu, Bugis, hingga Eropa—yang membentuk identitas multikultural yang kuat  . Jejaknya masih terlihat dari kampung-kampung tua dan bangunan dengan arsitektur khas kolonial yang berdiri di sepanjang jalan sempitnya.

Namun di sinilah ironi itu bermula.

Di tengah potensi besar sebagai destinasi wisata sejarah kelas nasional, kondisi fisik kawasan ini justru memprihatinkan. Banyak bangunan tua yang rusak, cat mengelupas, bahkan terbengkalai tanpa penghuni  . Alih-alih menjadi museum hidup yang terawat, sebagian sudut Ampenan justru tampak seperti kota yang ditinggalkan.

Pemerintah memang tidak tinggal diam. Upaya revitalisasi telah digagas, bahkan dialokasikan anggaran untuk penataan kawasan dan mitigasi bencana pesisir  . Namun pertanyaannya: apakah revitalisasi itu cukup menyentuh akar persoalan?

Masalah utama Ampenan bukan sekadar infrastruktur, tetapi arah pengelolaan. Hingga kini, kawasan ini masih terjebak dalam konsep “spot foto” semata. Wisatawan datang, mengambil gambar, lalu pergi—tanpa pengalaman mendalam tentang sejarah dan budaya yang seharusnya menjadi kekuatan utama. Potensi storytelling sejarah, tur edukasi, hingga penguatan ekonomi kreatif lokal belum dimaksimalkan.

Selain itu, persoalan klasik seperti penataan pedagang, kebersihan, dan abrasi pantai juga menjadi tantangan nyata. Pantai Ampenan yang seharusnya menjadi daya tarik justru menghadapi ancaman gelombang dan penurunan kualitas lingkungan  . Ini menunjukkan bahwa pengembangan wisata belum sepenuhnya terintegrasi antara aspek sejarah, lingkungan, dan ekonomi.

Kritik lain yang tak kalah penting adalah minimnya sense of place—rasa memiliki terhadap kawasan ini. Tanpa keterlibatan aktif masyarakat lokal, revitalisasi hanya akan menjadi proyek kosmetik. Bangunan boleh diperbaiki, tapi jiwa kota bisa hilang jika tidak dirawat oleh komunitasnya sendiri.

Padahal, jika dikelola dengan serius, Ampenan bisa menjadi “Kota Tua versi Lombok”—seperti Kota Tua Jakarta atau kawasan heritage di kota-kota besar lainnya. Dengan konsep yang matang, kawasan ini bisa hidup 24 jam: siang sebagai wisata sejarah, malam sebagai pusat kuliner dan budaya.

Sayangnya, hingga hari ini, Ampenan masih berada di persimpangan: antara potensi besar dan realita yang belum tergarap maksimal.

Kota Tua Ampenan bukan kekurangan cerita. Ia hanya kekurangan perhatian yang konsisten dan visi yang berani.

Dan selama itu belum berubah, Ampenan akan tetap menjadi destinasi yang “hanya bagus di foto”—bukan pengalaman yang benar-benar hidup di hati wisatawan.