Krisis Petani Muda NTB! Lulusan Pertanian Banyak, Tapi Sawah Tetap Sepi

Pojok NTB – Regenerasi petani menjadi isu krusial dalam pembangunan NTB ke depan. Pemerintah menilai sektor pertanian tidak akan berkembang tanpa kehadiran generasi muda yang mampu menguasai teknologi modern.

Kepala Bappeda NTB, Baiq Nelly Yuniarti, menyoroti minimnya minat anak muda untuk terjun ke dunia pertanian, meskipun NTB memiliki Fakultas Pertanian yang rutin meluluskan sarjana setiap tahun.

“Pertanyaan besarnya, ke mana mereka? Kenapa tidak kembali ke sektor pertanian?” ujarnya.

Menurut Nelly, persoalan utama bukan hanya pada teknis pertanian, tetapi juga pada motivasi. Anak muda perlu diyakinkan bahwa sektor pertanian memiliki potensi ekonomi yang besar.

Ia mencontohkan penerapan teknologi pada budidaya cabai yang pernah dilakukan bersama Bank Indonesia. Namun, hasilnya belum maksimal karena kurangnya SDM yang mampu mengoperasikan teknologi tersebut secara konsisten.

“Yang bisa menjalankan ini adalah petani milenial. Mereka yang paham teknologi,” tegasnya.

Selain itu, permasalahan klasik seperti irigasi yang belum diperbarui sejak lama juga menjadi hambatan. Pemerintah kini mulai membuka lahan pertanian baru dan mendorong penggunaan teknologi untuk meningkatkan produktivitas tanpa harus bergantung pada luas lahan.

Belajar dari negara seperti Vietnam dan Thailand, keberhasilan sektor pertanian ditentukan oleh regenerasi dan modernisasi. NTB pun berupaya mengejar ketertinggalan tersebut.