71 Ribu Anak Terancam Putus Sekolah di NTB, Wamen Fajar: Perlu Intervensi Khusus

Pojok NTB – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, menyoroti tingginya angka anak putus sekolah di Nusa Tenggara Barat (NTB) yang mencapai sekitar 71 ribu anak. Hal ini disampaikannya saat kunjungan di Sentra Paramita, Lombok Barat, Senin (13 April 2025).

Menurutnya, persoalan utama terletak pada rendahnya angka partisipasi sekolah, terutama pada masa transisi dari jenjang pendidikan dasar ke menengah, yakni dari SMP ke SMA atau SMK.

“Saya kira ini memang butuh perhatian serius, khususnya di fase transisi dari SMP ke SMA atau SMK,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kondisi ini menjadi salah satu latar belakang pemerintah pusat, termasuk arahan Presiden, dalam menggagas program sekolah rakyat yang ditujukan bagi kelompok masyarakat miskin dan rentan, terutama pada kategori desil terbawah.

Program ini, lanjutnya, memerlukan pendekatan khusus agar mampu menjangkau anak-anak yang selama ini berisiko putus sekolah.

Kementerian Pendidikan, kata Fajar, memberikan dukungan penuh dalam pelaksanaan program tersebut, terutama dari sisi penyediaan sumber daya manusia, seperti guru dan kepala sekolah, serta penguatan kurikulum.

Ia juga menekankan pentingnya sinergi lintas kementerian, mengingat pengelolaan sekolah rakyat berada di bawah Kementerian Sosial, sementara tenaga pendidiknya berasal dari Kementerian Pendidikan.

“Koordinasi harus terus dijaga. Sekolah juga kami minta aktif berkomunikasi dengan balai-balai pendidikan di NTB, termasuk dalam hal pelatihan guru,” jelasnya.

Fajar berharap, berbagai kebijakan yang diterapkan Kementerian Pendidikan, seperti pembelajaran mendalam (deep learning), juga dapat diadopsi oleh sekolah rakyat guna meningkatkan kualitas pendidikan.

“Harapannya, anak-anak yang tidak sekolah atau rentan putus sekolah bisa mendapatkan layanan pendidikan yang lebih baik melalui intervensi ini,” pungkasnya.