Pojok NTB – Lonjakan harga tiket pesawat hingga sekitar 40–70 persen mulai dirasakan dampaknya terhadap sektor pariwisata di Nusa Tenggara Barat (NTB). Kondisi ini dinilai berpotensi menghambat kunjungan wisatawan, terutama menjelang musim liburan pertengahan tahun (summer).
Sekretaris Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) NTB, Muhammad Erwan, mengakui bahwa tingginya harga tiket pesawat menjadi tantangan serius yang harus segera direspons dengan strategi alternatif.
“Dengan harga tiket yang tinggi, mau tidak mau kita harus memaksimalkan jalur lain, terutama jalur laut,” ujarnya.
Sebagai langkah antisipasi, Pemprov NTB berupaya memperkuat konektivitas laut, baik dari Bali maupun dari Jawa Timur seperti Surabaya. Jalur ini dinilai lebih terjangkau dan dapat menjadi solusi bagi wisatawan domestik.
Selain itu, NTB juga akan mengoptimalkan kerja sama dengan Provinsi Bali untuk menangkap limpahan wisatawan. Paket wisata terintegrasi Bali–Lombok menjadi salah satu strategi yang tengah didorong.
“Kita harapkan wisatawan dari Bali bisa diarahkan juga ke Lombok melalui paket wisata bersama,” jelasnya.
Tak hanya itu, pemerintah juga akan mendorong peningkatan kunjungan kapal pesiar (cruise). Bahkan, wisatawan kapal pesiar diharapkan tidak hanya singgah singkat, tetapi bisa menginap lebih lama di NTB.
“Kalau bisa tidak hanya dua atau tiga jam, tapi over night, sehingga dampak ekonominya lebih terasa,” tambah Erwan.
Di tengah kondisi ini, pemerintah juga berupaya menggerakkan aktivitas pariwisata di dalam daerah melalui berbagai event dan kegiatan, agar perputaran ekonomi tetap terjaga.












