Profesor Berdampak Unram Siapkan SDM Pariwisata Timbanuh, Pelatihan Hospitality Jadi Fondasi Agro Eduwisata Rinjani

Pojok NTB – Tim Program Profesor Berdampak Universitas Mataram (Unram) terus mendorong pengembangan Desa Timbanuh, Kecamatan Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur, sebagai destinasi agroeduwisata berbasis lanskap Rinjani.

Salah satu langkah konkret dilakukan melalui pelatihan hospitality bagi calon pengelola destinasi wisata Desa Timbanuh yang dilaksanakan pada Sabtu, 12 September 2026.

Pelatihan ini merupakan bagian dari Program Profesor Berdampak bertajuk “Model Pengembangan Agroeduwisata Berbasis Lanskap Rinjani untuk Penguatan Ekonomi Masyarakat Desa Timbanuh, Lombok Timur” yang diketuai Prof. Diswandi, S.E., M.Sc., Ph.D.

Program tersebut dilaksanakan dalam skema Transformasi Masyarakat dan Wilayah Binaan dan dirancang berlangsung selama tiga tahun, 2026–2028. Pada tahun pertama, program difokuskan pada desain dan uji coba model agroeduwisata, termasuk pemetaan potensi, penyusunan paket wisata, pelatihan dasar masyarakat, serta uji coba paket wisata.

Pelatihan hospitality diarahkan untuk meningkatkan kesiapan masyarakat sebagai tuan rumah sekaligus pelaku utama pariwisata desa. Pengembangan destinasi tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam. Kualitas pelayanan, keramahan, komunikasi yang baik, kebersihan, keamanan, serta kemampuan menciptakan pengalaman berkesan bagi wisatawan menjadi bagian penting dari daya saing sebuah destinasi.

Dalam rancangan Program Profesor Berdampak, peningkatan kapasitas masyarakat menjadi salah satu pilar utama. Calon pengelola wisata berasal dari berbagai unsur lokal, seperti Pokdarwis, pemuda desa, kelompok tani, UMKM, BUMDes, dan masyarakat penyedia jasa wisata.

Pokdarwis diproyeksikan berperan dalam pengelolaan atraksi dan pelayanan wisata. Sementara itu, pemuda desa didorong untuk menjadi pemandu, fasilitator kegiatan luar ruang, pengelola camping ground, operator aktivitas wisata, dokumentator, hingga penggerak promosi digital.

Pelatihan hospitality juga menjadi fondasi bagi Timbanuh yang sedang diarahkan untuk mengembangkan berbagai produk agroeduwisata. Potensi pertanian, wisata alam, kehutanan, dan kehidupan masyarakat desa akan dikemas menjadi pengalaman wisata yang tidak hanya rekreatif, tetapi juga edukatif.

Konsep ini diharapkan mampu menghubungkan sektor pertanian, pariwisata, pendidikan, konservasi, UMKM, dan ekonomi kreatif dalam satu ekosistem ekonomi desa.

Beberapa paket wisata yang dirancang dalam program tersebut antara lain soft trekking dengan panorama Rinjani, wisata Air Terjun Mayung Polak dan Arung Raden, Edu Farm atau jelajah pertanian, camping ground, outbound dan team building, water tubing, edukasi kehutanan dan konservasi, kuliner dan produk lokal, serta live-in atau pengalaman kehidupan desa.

Karena itu, kemampuan masyarakat dalam memberikan pelayanan secara profesional menjadi salah satu prasyarat agar berbagai potensi tersebut dapat berkembang menjadi produk wisata yang aman, terkelola, dan memiliki nilai jual.

Ketua Tim Profesor Berdampak, Prof. Diswandi, menjelaskan bahwa pengembangan agroeduwisata Timbanuh tidak semata-mata diarahkan untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan.

Program ini dirancang untuk menjadikan pariwisata sebagai instrumen penguatan ekonomi masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan dan membangun tata kelola destinasi berbasis komunitas.

Pelatihan Hospitality Berkontribusi pada Pencapaian SDGs

Pelatihan hospitality ini sekaligus memberikan kontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).

Program Profesor Berdampak Timbanuh sejak awal dirancang memiliki keterkaitan dengan SDG 1 (Tanpa Kemiskinan), SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), SDG 15 (Ekosistem Daratan), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).

Secara langsung, pelatihan hospitality mendukung SDG 4 melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam pelayanan wisata. Kegiatan ini juga mendukung SDG 8 karena peningkatan kompetensi masyarakat dapat membuka peluang pekerjaan dan sumber pendapatan baru sebagai pemandu wisata, pengelola atraksi, pelaku kuliner dan UMKM, pengelola camping ground, serta penyedia jasa wisata lainnya.

Dalam jangka panjang, terbukanya sumber pendapatan baru tersebut diharapkan turut mendukung SDG 1 melalui penguatan ekonomi rumah tangga dan diversifikasi mata pencaharian masyarakat.

Penerapan standar pelayanan yang memperhatikan kebersihan, budaya lokal, keselamatan, dan tata kelola destinasi mendukung SDG 11 dan SDG 12.

Sementara itu, integrasi edukasi lingkungan, konservasi sumber air, kehutanan, pengelolaan sampah, dan prinsip wisata rendah dampak memperkuat kontribusi terhadap SDG 13 dan SDG 15.

Dengan demikian, calon pengelola wisata tidak hanya dibekali keterampilan dalam melayani wisatawan, tetapi juga pemahaman bahwa kualitas destinasi harus tumbuh seiring dengan perlindungan lanskap dan sumber daya alam Rinjani.

Pelaksanaan program yang melibatkan perguruan tinggi, Pemerintah Desa Timbanuh, Pokdarwis, kelompok tani, UMKM, BUMDes, pemuda, sekolah dan kampus, serta lembaga yang terkait dengan pengelolaan lingkungan dan kehutanan juga mencerminkan SDG 17.

Kolaborasi lintas pemangku kepentingan menjadi modal penting agar pengembangan agroeduwisata tidak berhenti setelah program selesai, tetapi dapat dilanjutkan dan dikelola secara mandiri oleh masyarakat.

Pelatihan hospitality menjadi salah satu langkah awal dalam rangkaian penguatan destinasi. Tahap berikutnya diarahkan pada pengembangan dan uji coba paket wisata, penyusunan standar operasional, penguatan kelembagaan, promosi, serta peningkatan kualitas produk wisata Timbanuh.

Melalui proses tersebut, Timbanuh diharapkan berkembang bukan sekadar menjadi tempat yang dikunjungi wisatawan, tetapi juga menjadi ruang belajar tentang pertanian, lingkungan, konservasi, dan kehidupan masyarakat di kaki Rinjani.

Pada saat yang sama, pengembangan tersebut diharapkan mampu menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru yang manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat desa.