Pojok NTB – Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhammad Iqbal mengunjungi seorang pasien hidrosefalus di Kabupaten Lombok Tengah sebagai bentuk kepedulian pemerintah terhadap masyarakat yang membutuhkan perhatian khusus di bidang kesehatan. Dalam kunjungan tersebut, Gubernur didampingi jajaran Pemerintah Provinsi NTB, tenaga medis dari RSUP NTB, serta Dinas Sosial Provinsi NTB yang turut menyerahkan berbagai bantuan kepada keluarga pasien.
Direktur Utama RSUP NTB, Asrul Sani, mengatakan pihaknya telah melakukan pemeriksaan terhadap kondisi pasien. Berdasarkan hasil penilaian tim medis, tindakan operasi tidak lagi menjadi pilihan yang memberikan manfaat signifikan karena kondisi pasien sudah berlangsung sangat lama.
“Operasi tidak banyak membantu. Yang paling penting sekarang adalah bagaimana kita menjaga kondisi kesehatannya agar tetap stabil melalui perawatan dan pemantauan secara berkala,” ujar Asrul Sani.
Ia menjelaskan, pasien telah hidup dengan kondisi hidrosefalus selama lebih dari 40 tahun. Saat penyakit tersebut pertama kali dialami, fasilitas pelayanan kesehatan, khususnya dokter spesialis bedah saraf, masih sangat terbatas sehingga penanganan yang dilakukan pada saat itu hanya berupa pemberian obat-obatan.
Menurut Asrul, kondisi tersebut membuat tindakan operasi saat ini memiliki risiko yang cukup besar dan tidak akan memberikan perubahan berarti terhadap kondisi pasien. Karena itu, pendekatan yang dipilih adalah perawatan konservatif dengan fokus menjaga kualitas hidup pasien.
“Bentuk perawatannya berupa kontrol kesehatan secara rutin, pemberian vitamin maupun obat-obatan yang diperlukan, serta pemantauan kondisi kesehatannya. Kami juga sudah meminta nomor kontak keluarga agar apabila terjadi kondisi darurat, pasien bisa segera mendapatkan penanganan,” jelasnya.
Meski operasi tidak direkomendasikan untuk pasien tersebut, Asrul menegaskan RSUP NTB tetap memiliki kemampuan untuk menangani berbagai kasus hidrosefalus lainnya, terutama apabila pasien datang lebih dini sehingga peluang keberhasilan penanganan menjadi lebih besar.
“Untuk kasus-kasus hidrosefalus yang lain kami siap menangani. Selama ini juga sudah banyak pasien yang kami tangani sesuai dengan indikasi medis,” katanya.
Selain memastikan pelayanan kesehatan bagi pasien, kunjungan Gubernur NTB juga diisi dengan penyaluran bantuan sosial kepada keluarga pasien. Kepala Dinas Sosial dan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPA) Provinsi NTB, Ahmad Mashuri, mengatakan bantuan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah memenuhi kebutuhan dasar masyarakat yang membutuhkan.
Ia menyebutkan bantuan yang disalurkan meliputi paket sembako, kasur, pakaian, family kit yang berisi perlengkapan kebutuhan rumah tangga, hingga dukungan pembiayaan pelayanan kesehatan dan rujukan ke rumah sakit apabila diperlukan.
“Pak Gubernur juga memberikan perhatian terhadap pembiayaan kesehatan pasien. Dari Dinas Sosial kami menyerahkan paket sembako, kasur, pakaian, dan family kit yang isinya cukup lengkap untuk membantu kebutuhan keluarga,” ujar Ahmad Mashuri.
Menurutnya, kunjungan tersebut merupakan bagian dari agenda Desa Berdaya yang dilaksanakan Pemerintah Provinsi NTB. Dalam kegiatan itu, pemerintah tidak hanya menyasar pelayanan kesehatan, tetapi juga memberikan berbagai bentuk bantuan sosial kepada masyarakat di sejumlah lokasi.
Ahmad Mashuri menjelaskan, pihaknya juga membawa bantuan berupa perlengkapan bayi untuk keluarga yang memiliki balita serta melakukan distribusi air bersih ke wilayah yang mulai terdampak musim kemarau.
“Hari ini kami bersama Pak Gubernur juga menyalurkan dua tangki air bersih ke desa-desa yang mulai mengalami kekurangan air bersih akibat musim kemarau. Ini merupakan bentuk respons cepat pemerintah terhadap kebutuhan masyarakat,” katanya.
Ia menegaskan, kehadiran pemerintah di tengah masyarakat bertujuan memastikan warga yang mengalami kondisi rentan tetap mendapatkan pelayanan kesehatan, bantuan sosial, serta kebutuhan dasar lainnya sehingga risiko kesehatan maupun dampak sosial dapat diminimalkan.
Kunjungan Gubernur NTB tersebut menjadi bentuk sinergi antara layanan kesehatan dan perlindungan sosial. Selain memastikan pasien hidrosefalus memperoleh pendampingan medis secara berkelanjutan, pemerintah juga memberikan dukungan kepada keluarga pasien melalui berbagai bantuan agar beban yang mereka hadapi dapat berkurang.












