Pojok NTB — Perdagangan orang kini semakin berkembang mengikuti kemajuan teknologi digital. Modus yang digunakan pelaku pun semakin beragam, sehingga peningkatan kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, dinilai menjadi langkah penting untuk mencegah jatuhnya korban.
Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Jaringan Nasional Anti Perdagangan Orang (Jarnas Anti TPPO) sekaligus Pendiri Yayasan Parinama Ashta, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo, dalam gelaran Youth Generation Safe Online: Perdagangan Orang di Era Digital di Universitas Mataram (Unram).
Rahayu mengatakan, mahasiswa dapat mengambil peran penting sebagai bagian dari sistem peringatan dini atau early warning system terhadap praktik perdagangan orang.
“Mereka harus menjadi mata dan telinga. Mereka juga bisa menjadi bagian dari pencegahan dan pelaporan,” ujar Rahayu.
Menurutnya, mahasiswa perlu meningkatkan kewaspadaan agar tidak mudah terjebak tawaran yang diberikan pelaku perdagangan orang. Terlebih, kelompok anak muda kerap menjadi sasaran karena memiliki berbagai kerentanan, termasuk keinginan mendapatkan pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik.
Rahayu mengingatkan, tawaran yang terlihat menarik di ruang digital belum tentu sesuai dengan kenyataan.
Karena itu, mahasiswa diharapkan tidak hanya mampu melindungi diri sendiri, tetapi juga berperan aktif mengedukasi lingkungan dan komunitas masing-masing.
“Kita berharap melalui Universitas Mataram ini, kita melihat banyak pahlawan-pahlawan di komunitas mereka masing-masing,” katanya.
Rahayu menilai isu perdagangan orang menjadi perhatian serius di NTB. Salah satu faktornya adalah tingginya jumlah masyarakat yang bekerja sebagai pekerja migran, baik melalui jalur resmi maupun nonprosedural.
Kondisi tersebut, kata dia, perlu diimbangi dengan peningkatan literasi dan kesadaran masyarakat mengenai migrasi yang aman.
“NTB dengan adanya tingkat pekerja migran yang cukup besar, dan ini bukan hanya yang jalur formal tapi juga yang nonprosedural. Itu juga sangat besar,” ujarnya.
Ia khawatir, jika kesadaran masyarakat tidak terus ditingkatkan, jumlah korban perdagangan orang justru akan semakin bertambah.
Rahayu juga mendorong mahasiswa Unram untuk menjadikan isu perdagangan orang sebagai bagian dari kajian akademik. Tidak hanya melalui skripsi atau disertasi, tetapi juga sebagai peluang untuk menciptakan solusi dan lapangan pekerjaan.
Menurutnya, pemberdayaan ekonomi menjadi salah satu bagian penting dalam pencegahan perdagangan orang.
“Kerentanan ekonomi tentunya menjadi salah satu alasan utama kenapa perdagangan orang bisa terjadi,” katanya.
Karena itu, Rahayu mendorong lahirnya desa-desa aman perdagangan orang, selain program desa migran aman yang selama ini dikembangkan.
Ia berharap generasi muda tidak hanya menjadi objek perlindungan, tetapi juga menjadi bagian dari solusi. Setelah lulus dari Unram, mahasiswa diharapkan mampu menciptakan lapangan pekerjaan dan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
“Anak-anak muda benar-benar bisa menciptakan lapangan pekerjaan juga pada saat mereka nanti lulus dari Unram dan menjadi bagian dari solusi,” pungkasnya.












