Pojok NTB – Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat Bale Kita kembali menunjukkan geliat positif sejak dibuka kembali. Pusat promosi dan pemasaran produk UMKM tersebut kini mampu membukukan transaksi rata-rata Rp10 juta per hari, bahkan meningkat signifikan saat berlangsung kegiatan berskala nasional.
Kepala Disperindag Provinsi NTB, Lalu Wiranata, mengatakan capaian tersebut telah menyamai kondisi sebelum Bale Kita sempat ditutup.
“Sudah menyamai sebelum ditutup dulu. Setiap hari minimal transaksinya Rp10 juta,” kata Wiranata.
Menurutnya, pembeli di Bale Kita didominasi tamu dari luar daerah maupun wisatawan. Produk yang paling banyak diminati adalah kuliner khas NTB, produk kerajinan (kriya), serta mutiara.
Meski transaksi terus meningkat, Disdag saat ini masih berperan sebagai fasilitator pemasaran. Seluruh pembayaran masih dilakukan langsung kepada pelaku UMKM karena Bale Kita belum berstatus Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).
“Karena belum BLUD, kita masih membantu penjualannya saja. Pembayarannya langsung ke UMKM atau produsennya. Kalau nanti sudah BLUD, kita bisa lebih leluasa bekerja sama dengan travel untuk membawa wisatawan berbelanja ke Bale Kita,” jelasnya.
Ia menambahkan, selama pelaksanaan Musyawarah Nasional Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI), transaksi di Bale Kita juga mengalami peningkatan. Total penjualan selama kegiatan tersebut mencapai sekitar Rp40 juta, termasuk pesanan produk kerajinan cukli oleh Wakil Menteri.
Selain memperkuat pemasaran produk UMKM melalui Bale Kita, Disperindag NTB juga tengah mengembangkan program Desa Ekspor untuk mendorong produk unggulan desa menembus pasar internasional.
Dari sekitar 100 desa yang diinventarisasi dengan total 106 produk unggulan, Disperindag menyeleksi 30 produk yang dinilai memiliki potensi ekspor. Produk-produk tersebut akan mendapatkan pendampingan mulai dari peningkatan kualitas, proses produksi, manajemen usaha, menjaga kontinuitas produksi hingga dipertemukan dengan calon pembeli melalui kegiatan business matching pada Desember mendatang.
Calon pembeli yang akan diundang berasal dari Australia, Malaysia, Timor-Leste, Timur Tengah, hingga Norwegia. Bahkan, pembeli dari Norwegia telah menyatakan minat terhadap produk berbahan bambu dan batok kelapa, seperti sedotan, mangkuk, dan piring ramah lingkungan.
“Kita targetkan minimal tiga produk dari 30 peserta pendampingan ini sudah benar-benar bisa ekspor tahun ini secara berkelanjutan, bukan hanya sekali kirim,” ujar Wiranata.
Komoditas yang diprioritaskan berasal dari sektor agro-maritim dan industri kreatif, seperti produk olahan pangan, rumput laut, mutiara, kosmetik berbahan alami, hingga berbagai kerajinan khas NTB. Pemerintah juga mendorong agar produk yang diekspor merupakan hasil olahan sehingga memiliki nilai tambah lebih tinggi dibandingkan bahan mentah.
Di sisi lain, Disperindag NTB memastikan pelaksanaan kembali program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak akan mengganggu ketersediaan bahan pokok di pasar. Pemerintah sedang menyusun pemetaan pasokan agar kebutuhan MBG tetap terpenuhi tanpa memicu kenaikan harga komoditas strategis seperti cabai, bawang, dan sayuran.
“Kita sedang mengatur jalurnya agar pasokan untuk MBG tidak mengganggu stok masyarakat. Koordinasi dengan Badan Gizi Nasional akan terus dilakukan supaya distribusi bahan pangan tetap aman,” pungkasnya.












