Pojok NTB – Pemerintah Kabupaten Lombok Barat terus memperkuat transformasi pendidikan inklusif berbasis data melalui kegiatan Expo Data PBS (Profil Belajar Siswa) yang digelar di Aula Pertemuan Bapperida Lombok Barat, Senin (11/5/2026). Kegiatan ini menjadi langkah penting dalam membangun sistem pendidikan yang lebih adil, tepat sasaran, dan melibatkan banyak pihak.
Acara tersebut dihadiri berbagai unsur pemerintah daerah, dunia pendidikan, hingga organisasi masyarakat yang fokus pada pendidikan inklusif. Hadir di antaranya Sekretaris Bapperida Lombok Barat Yulinda Irmayani, OPD terkait, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Kesehatan, pengawas sekolah, PKBM, pemerintah desa, Tim INOVASI NTB, hingga Konsorsium Pendidikan Inklusif Kuripan Timur.
Mewakili Kepala Bapperida Lombok Barat, Yulinda Irmayani menyampaikan apresiasi kepada Program INOVASI NTB yang selama ini menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Lombok Barat.
Menurutnya, Expo Data PBS menjadi bagian penting dalam mendorong pendidikan yang lebih inklusif, terutama bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus dan hambatan belajar. Selain itu, penggunaan data yang akurat dinilai menjadi kunci agar program pemerintah lebih tepat sasaran.
“Transformasi pendidikan tidak cukup hanya dengan program, tetapi juga harus ditopang data yang valid dan kolaborasi lintas sektor,” ujarnya.
Dalam pemaparan data PBS, ditemukan lebih dari 2.700 anak di Lombok Barat mengalami hambatan fungsional belajar. Dari jumlah tersebut, lebih dari 250 anak masuk kategori hambatan belajar berat.
Temuan ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Karena itu, Bapperida mendorong agar data tersebut segera divalidasi oleh Dinas Kesehatan dan diverifikasi oleh Dinas Sosial, terutama terkait kondisi ekonomi keluarga agar intervensi yang diberikan benar-benar sesuai kebutuhan anak.
Yulinda juga menegaskan bahwa program pendidikan inklusif yang dikembangkan melalui pendekatan PBS sejalan dengan visi dan misi Bupati Lombok Barat, khususnya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperkuat literasi dan numerasi, serta memastikan hak pendidikan bagi kelompok rentan dan penyandang disabilitas dapat terpenuhi.
Selain pembahasan data, kegiatan ini juga menghadirkan praktik baik pendidikan inklusif berbasis masyarakat dari Konsorsium Pendidikan Inklusif Kuripan Timur yang dipimpin LPA NTB bersama Program INOVASI NTB.
Melalui kolaborasi antara PKBM, sekolah, pemerintah desa, kader desa, PKK, hingga tokoh masyarakat, mereka membangun gerakan bersama untuk meningkatkan kemampuan literasi anak-anak SD dan MI di desa.
Pendekatan tersebut dinilai berhasil memperluas tanggung jawab pendidikan, tidak hanya dibebankan kepada sekolah, tetapi juga menjadi gerakan kolektif masyarakat desa.
Dalam pertemuan itu, para peserta juga menyepakati sejumlah langkah lanjutan, mulai dari koordinasi pengiriman data PBS ke Dinas Kesehatan, validasi data oleh puskesmas, verifikasi data kemiskinan oleh Dinas Sosial, hingga sinkronisasi data antarinstansi seperti Dukcapil, Dikbud, dan Dinas Sosial.
Tiga PKBM, yakni PKBM Al Husna Desa Gelogor, PKBM Annur Desa Lembar, dan PKBM Kecamatan Gerung, turut menyatakan komitmennya untuk mereplikasi model pendidikan inklusif berbasis masyarakat yang telah berjalan di Desa Kuripan Timur.
Expo Data PBS ini diharapkan menjadi fondasi awal penguatan sistem pendidikan inklusif berbasis data di Lombok Barat, agar setiap anak mendapatkan hak pendidikan yang setara, berkualitas, dan berkeadilan tanpa terkecuali.












