Akademisi Soroti Pemulihan Biota Laut di Area AMMAN yang Dinilai Positif

Pojok NTB – Sejumlah akademisi menilai hasil Studi Rekolonisasi di area operasional PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) menunjukkan tren positif bagi ekosistem laut dalam di wilayah Sumbawa Barat. Temuan ini menjadi indikasi awal bahwa biota laut memiliki kemampuan adaptasi terhadap lingkungan sekitarnya.

Studi tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya ilmiah untuk menguji kemampuan pemulihan alami ekosistem laut melalui pendekatan eksperimental. Dalam pelaksanaannya, para peneliti menempatkan wadah terkontrol di dasar laut guna memantau bagaimana organisme laut merespons dan tumbuh kembali di atas material tailings di area operasional perusahaan.

Akademisi dari Institut Pertanian Bogor, Dr. M. Mukhlis Kamal, mengungkapkan bahwa hasil pengamatan menunjukkan adanya berbagai organisme dasar perairan (bentos) yang muncul pada sampel penelitian. Organisme seperti udang, cacing laut, dan kerang bahkan ditemukan tumbuh lebih cepat dari perkiraan awal.

“Hal ini mengindikasikan bahwa proses adaptasi dan pemulihan alami komunitas bentos di atas substrat tailing berjalan dengan sangat baik,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa hasil tersebut sejalan dengan studi-studi sebelumnya yang telah dilakukan di lokasi yang sama pada tahun 2002, 2005, dan 2009. Konsistensi temuan selama lebih dari dua dekade ini dinilai memperkuat dasar ilmiah bahwa pengelolaan operasional yang dilakukan secara ketat dapat tetap mendukung keberlangsungan kehidupan biota laut.

Pandangan serupa disampaikan oleh Prof. Joni Safaat Adiansyah dari Universitas Muhammadiyah Mataram. Ia menekankan bahwa pendekatan berbasis pemantauan ilmiah sangat penting untuk memahami hubungan antara aktivitas industri dan kondisi lingkungan.

“Data yang tersedia dapat menjadi referensi dalam menilai pengelolaan lingkungan serta dampaknya terhadap ekosistem. Perlindungan keanekaragaman hayati yang dilakukan secara berkala merupakan langkah nyata menjaga potensi ekonomi maritim jangka panjang,” jelasnya.

Selain studi rekolonisasi, AMMAN juga secara rutin melakukan studi laut dalam (deep sea study) melalui kolaborasi lintas institusi. Program ini melibatkan sejumlah lembaga seperti Badan Riset dan Inovasi Nasional, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Pertahanan, serta Politeknik Ahli Usaha Perikanan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Keterlibatan berbagai institusi ini bertujuan memastikan proses pemantauan lingkungan berjalan transparan, akuntabel, serta memenuhi standar ilmiah internasional. Mulai dari pengambilan data hingga evaluasi, seluruh tahapan dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan akademisi independen.

Sinergi antara dunia industri dan akademik ini diharapkan mampu menghasilkan data yang akurat dan berkelanjutan. Dengan demikian, perkembangan industri pertambangan di Sumbawa Barat dapat terus berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian ekosistem laut bagi generasi mendatang.

Penulis: HayyanEditor: Hayyan