Kasus Gangguan Mental Meningkat, Dinkes NTB Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini

Pojok NTB – Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, Hamzi Fikri, mengungkapkan bahwa masalah kesehatan mental di masyarakat kini menunjukkan tren peningkatan, seiring dengan kasus penyakit infeksi dan penyakit tidak menular (PTM).

Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI), sekitar 1 dari 10 orang memiliki potensi mengalami gangguan kesehatan mental. Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari dalam diri individu maupun lingkungan sekitar.

“Selain infeksi dan PTM, kesehatan mental juga mengalami peningkatan. SKI menyebutkan 1 dari 10 orang berpotensi mengalami gangguan mental,” ujarnya.

Ia menjelaskan, faktor internal biasanya berkaitan dengan kemampuan individu dalam mengelola tekanan dan mekanisme pertahanan diri. Sementara faktor eksternal dapat berasal dari lingkungan, tekanan sosial, hingga informasi yang diterima sehari-hari.

“Intinya adalah kemampuan beradaptasi. Ketika seseorang tidak mampu beradaptasi dengan masalah yang dihadapi, maka bisa terjadi ketidakseimbangan mental,” jelas Ahsanul Fikri.

Untuk mencegah gangguan mental, ia menekankan pentingnya deteksi dini yang bisa dimulai dari hal sederhana, seperti mengecek kondisi diri setiap pagi setelah bangun tidur.

“Coba rasakan kondisi kita, apakah stabil atau ada rasa tidak nyaman. Jika rasa itu terus meningkat, berarti perlu mendapatkan bantuan,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa banyak orang tidak menyadari dirinya mengalami gangguan mental. Oleh karena itu, jika muncul gejala seperti kecemasan berlebihan, pikiran negatif, atau perasaan tidak nyaman yang berkepanjangan, sebaiknya segera melakukan konseling atau pemeriksaan kepada tenaga ahli.

Selain deteksi dini, menjaga kesehatan mental juga dapat dilakukan dengan memperbanyak aktivitas positif, seperti olahraga, menjaga pola makan seimbang, serta menghindari paparan informasi negatif yang berlebihan.

“Kalau kita terlalu sering terpapar hal-hal negatif, itu bisa memengaruhi pikiran dan perilaku. Kalau sudah mengganggu, sebaiknya dihentikan,” tambahnya.

Ia juga menyarankan masyarakat, khususnya anak muda, untuk meluangkan waktu bagi diri sendiri atau me time sebagai bagian dari proses pemulihan atau healing, terutama di tengah aktivitas yang padat.

“Minimal seminggu sekali, kita perlu waktu untuk diri sendiri. Kalau tingkat stres meningkat, kita harus bisa mereduksi dari dalam diri,” tutupnya.

Dengan kesadaran dan langkah sederhana tersebut, diharapkan masyarakat dapat lebih peduli terhadap kesehatan mental sebagai bagian penting dari kualitas hidup.