OIA UMMAT Fasilitasi Gerakan Internasionalisasi Perguruan Tinggi di NTB Kolaborasi dengan DAAD German

Pojok NTB – Universitas Muhammadiyah Mataram kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong transformasi pendidikan tinggi berdaya saing global. Melalui Kantor Urusan Internasional dan Kerja Sama (KUIK), UMMAT resmi membuka Dies Natalis Multiplication Trainings (NMT-DIES) 2025 Workshop Tahap Kedua pada 6 April 2026 di Hotel Lombok Garden.

Kegiatan yang berlangsung hingga 8 April 2026 ini mengusung tema strategis: “Internationalization Policies and Strategies to Support Impactful Campus Educational Policy in Indonesia.” Workshop ini merupakan kelanjutan dari tahap pertama yang telah sukses digelar pada Oktober 2025 lalu.

Workshop nasional ini menjadi ruang penting bagi perguruan tinggi untuk memperkuat kapasitas dalam merancang kebijakan internasionalisasi yang terukur, inklusif, dan berdampak nyata. Sebelumnya, program ini diikuti oleh 22 peserta dari berbagai kampus di dalam dan luar Nusa Tenggara Barat (NTB), yang kini kembali dipertemukan untuk memperluas jejaring dan kolaborasi.

Kegiatan ini terselenggara berkat kolaborasi lintas negara dan institusi, melibatkan DAAD, University of Potsdam, serta sejumlah perguruan tinggi nasional seperti Universitas Ahmad Dahlan, Universitas Syiah Kuala, Universitas Jenderal Soedirman, dan Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.

Rektor UMMAT, Abdul Wahab, menegaskan bahwa internasionalisasi kini bukan lagi sekadar konsep, melainkan telah menjadi langkah nyata yang terus berkembang di lingkungan kampus.

Ia mengungkapkan, pada Tahun Akademik 2025/2026, UMMAT telah menerima 14 mahasiswa internasional yang berasal dari Sudan, Yaman, Ghana, dan Nigeria. Kehadiran mereka menjadi indikator meningkatnya kepercayaan global terhadap UMMAT sebagai kampus Islami yang inklusif dan terbuka.

“Mahasiswa internasional tidak hanya memperkaya suasana akademik, tetapi juga memperluas jejaring global kampus,” ujarnya.

Senada dengan itu, Wakil Rektor IV Bidang AIK dan Kerja Sama, Zaenudin, menilai workshop ini sebagai momentum strategis untuk memperkuat kemitraan nasional dan internasional.

Menurutnya, internasionalisasi harus dimaknai lebih dari sekadar reputasi, tetapi juga menyangkut peningkatan kualitas layanan akademik, penguatan riset, serta kontribusi nyata bagi masyarakat.

“Forum ini penting untuk mempertemukan pengelola kerja sama dari berbagai kampus agar dapat saling belajar dan menyusun langkah kolaboratif yang berkelanjutan,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala KUIK UMMAT, Asbah, mengungkapkan bahwa workshop ini mulai menunjukkan dampak positif. Di antaranya adalah meningkatnya pemahaman peserta terkait strategi internasionalisasi, terbukanya peluang kolaborasi baru, hingga meningkatnya potensi mobilitas akademik internasional ke kampus-kampus di NTB.

Workshop tahap kedua ini juga menghadirkan narasumber nasional dan internasional, serta diikuti oleh para pengelola dan PIC International Office dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Dengan terselenggaranya workshop ini, UMMAT kembali menegaskan posisinya sebagai kampus yang aktif membangun jejaring internasional dan mendorong transformasi pendidikan tinggi.

Harapannya, forum ini tidak hanya berhenti pada diskusi, tetapi juga melahirkan program-program konkret seperti kerja sama akademik, pertukaran dosen dan mahasiswa, hingga pengembangan program bersama lintas negara.

Pada akhirnya, internasionalisasi bukan lagi sebuah pilihan, melainkan kebutuhan bersama untuk mewujudkan masa depan pendidikan tinggi Indonesia yang lebih maju, terbuka, dan kompetitif di kancah global.