Pojok NTB – Langkah berani diambil Pemprov NTB dalam mengukur kualitas pariwisata. Tak tanggung-tanggung, sebanyak 162 indikator disiapkan sebagai alat ukur.
Bagi sebagian orang, angka ini mungkin terdengar berlebihan. Bahkan Kepada Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTB, Ahmad Nur Aulia sendiri mengakui bahwa jumlah indikator tersebut bisa membuat siapa pun “pusing”, termasuk kalangan akademisi.
Namun di balik itu, ada pesan besar: NTB ingin serius membangun pariwisata berbasis data, bukan lagi asumsi atau sekadar tren sesaat.
“Ini memang tidak mudah. Tapi kalau kita ingin jadi destinasi kelas dunia, ya harus punya standar yang jelas,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa indikator tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari kualitas layanan, dampak ekonomi, keberlanjutan lingkungan, hingga kesiapan SDM.
Tantangan terbesarnya bukan pada jumlah indikator, melainkan bagaimana mengorkestrasi semuanya agar tidak berhenti di atas kertas. Karena jika tidak dikelola dengan baik, indikator sebanyak itu justru bisa menjadi beban, bukan solusi.
Di sinilah peran pemerintah diuji: mampu atau tidak menerjemahkan konsep besar ini menjadi aksi nyata di lapangan.












