Pojok NTB – Banjir yang melanda Kota Mataram baru-baru ini dinilai sebagai sinyal serius adanya permasalahan tata ruang baik di wilayah hulu maupun hilir. Hal ini disampaikan oleh pengamat tata ruang yang juga dosen Universitas Mataram (Unram), Siska Ita Selvia, pada Senin (7/7).
“Kejadian banjir di Kota Mataram menjadi indikasi adanya permasalahan baik di hulu maupun hilir,” ujarnya.
Menurutnya, permasalahan di kawasan hulu erat kaitannya dengan maraknya alih fungsi lahan. Kawasan hutan banyak diubah menjadi lahan pertanian, terutama untuk penanaman jagung secara masif di daerah perbukitan. Aktivitas ini memicu erosi, meningkatkan sedimentasi sungai, dan memperparah degradasi lingkungan di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) beserta zona penyangganya.
“Penanaman jagung secara masif di wilayah perbukitan memperbesar potensi erosi dan berdampak pada sedimentasi sungai,” jelasnya.
Sementara itu, di wilayah hilir, Kota Mataram juga menghadapi persoalan serius dalam hal sistem drainase. Siska menyoroti bahwa pembangunan kawasan permukiman, perumahan, dan pusat perdagangan di kota ini kerap tidak diiringi dengan pembangunan sistem drainase yang memadai dan terintegrasi.
“Sistem drainase kota tidak terkelola dengan baik. Banyak pembangunan tanpa dibarengi infrastruktur drainase yang layak,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa banjir bukan sekadar bencana alam, melainkan juga hasil dari kelalaian perencanaan tata ruang yang tidak memperhatikan daya dukung lingkungan secara menyeluruh.
Dengan kondisi ini, ia mendorong pemerintah untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh, baik di kawasan hulu maupun hilir, agar bencana serupa tidak terus terulang di masa mendatang.










