Pelajaran dari Gempa M7,7 NTT: Keputusan Cepat Gubernur NTB Menggerakkan Solidaritas

Kominfotik NTB

Menjelang malam di Dusun Dampe, Desa Satar Pudut, Kecamatan Lamba Leda Utara, Manggarai Timur, suasana Posko utama Tim Solidaritas KR-BNN NTB perlahan berubah lebih tenang. Sejak pagi, orang-orang datang dan pergi. Tenaga medis berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain. Dapur umum terus bekerja. Logistik bergerak menuju warga terdampak. Relawan dan petugas penanganan bencana bergelut dengan waktu, jarak, jalan yang panjang, serta kekhawatiran terhadap gempa susulan.

Di tempat itulah, Gubernur Nusa Tenggara Barat Lalu Muhamad Iqbal memilih berhenti malam itu.

Ia tidak kembali ke Labuan Bajo. Ia memilih menginap di posko bersama Tim Solidaritas NTB.

Beberapa jam sebelumnya, Miq Iqbal bersama Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena masih berada di tengah masyarakat terdampak. Mereka bertemu warga, mendengar kebutuhan para pengungsi, dan melihat sendiri bagaimana gempa M7,7 telah mengubah kehidupan banyak keluarga dalam sekejap.

Setelah Gubernur NTT kembali ke Labuan Bajo untuk agenda penanganan lainnya, perjalanan Miq Iqbal belum berhenti. Ia melanjutkan kunjungan ke sejumlah titik pengungsian. Dari satu tempat ke tempat lain, ia menyapa warga, mendengar cerita mereka, menyerahkan bantuan, dan berusaha menguatkan mereka yang masih bertahan di bawah tenda-tenda pengungsian.

Anak-anak pun tidak luput dari perhatiannya. Roti, susu, dan cokelat dibagikan. Mereka diajak berbicara dan bercanda. Di tengah suasana yang penuh ketidakpastian, senyum kecil anak-anak itu menjadi pengingat bahwa bencana tidak hanya merusak bangunan, tetapi juga dapat mengguncang rasa aman manusia.

Malam di Dampe kemudian menjadi bagian penting dari perjalanan itu.

Seluruh unsur tim dikumpulkan. Tidak ada seremoni. Tidak ada panggung. Yang ada adalah orang-orang yang telah bekerja selama berhari-hari, duduk bersama untuk mengevaluasi apa yang sudah dilakukan, mendengarkan pengalaman dari lapangan, menyampaikan saran, sekaligus membicarakan langkah pelayanan bagi masyarakat terdampak pada hari-hari berikutnya.

Di tengah kelelahan, Miq Iqbal menyampaikan terima kasih secara langsung.

Sebab dalam kerja kemanusiaan, kata terima kasih kadang menjadi pengingat bahwa tenaga yang diberikan, waktu yang dikorbankan, dan jarak yang ditempuh tidak pernah sia-sia.

Malam itu, setelah pekerjaan selesai dan jam telah melewati tengah malam, Gubernur ikut beristirahat di Posko utama Tim NTB.

Di luar posko, masyarakat masih hidup dalam bayang-bayang gempa susulan.

Namun perjalanan menuju malam di Dampe itu sesungguhnya telah dimulai beberapa hari sebelumnya, dari sebuah keputusan yang lahir pada Sabtu pagi di Pendopo Gubernur NTB.

Rapatnya singkat. Keputusannya tidak sederhana.

Di ruang kerja Gubernur hadir Sekretaris Daerah NTB, Kepala BPBD NTB, Kepala Dinas Sosial, Kepala Dinas Perhubungan, Kepala Dinas Kesehatan, para direktur rumah sakit umum lingkup Pemerintah Provinsi NTB, Kepala Dinas Kominfotik yang juga Juru Bicara Pemprov NTB, serta Kepala Biro Kesra Setda NTB.

Situasi gempa di NTT dibahas.

Miq Iqbal kemudian mengambil keputusan: dalam waktu 24 jam, NTB harus sudah memiliki tim yang siap diberangkatkan menuju wilayah terdampak.

Tenaga medis harus tersedia. Personel teknis harus disiapkan. Dapur umum lapangan harus bergerak. Ambulans, kendaraan operasional, alat berat, perlengkapan pendukung dan bantuan logistik harus dikonsolidasikan.

Kepala Dinas Kominfotik sekaligus Juru Bicara Pemprov NTB ditunjuk menjadi Ketua Koordinator Tim, didampingi Kepala Biro Kesra Setda NTB. Tugasnya jelas: mengonsolidasikan seluruh kekuatan yang diperlukan, memastikan personel siap, bantuan terkumpul, kendaraan bergerak dan tim dapat dilepas sesuai batas waktu yang telah ditetapkan.

Begitu rapat berakhir, tidak ada waktu untuk menunggu.

Jajaran perangkat daerah langsung bergerak.

Kepala Dinas Kesehatan mengonsolidasikan tenaga kesehatan bersama rumah sakit-rumah sakit yang terlibat. Dalam waktu singkat, puluhan orang menyatakan kesediaan menjadi relawan. Mereka bukan hanya tenaga medis biasa, tetapi terdiri atas dokter spesialis, dokter, perawat, bidan, apoteker, asisten apoteker, psikolog, dan tenaga kesehatan lainnya.

Mereka datang dari Dinas Kesehatan dan rumah sakit lingkup Pemerintah Provinsi NTB, RS Universitas Mataram, serta Dinas Kesehatan Kota Mataram.

Orang-orang itu mendaftarkan diri untuk berangkat ke daerah yang bahkan sebagian belum pernah mereka kunjungi.

Namun barangkali dalam kerja kemanusiaan, tidak semua perjalanan harus dimulai dengan mengenal tempat yang akan didatangi. Kadang cukup mengetahui bahwa di sana ada manusia yang sedang membutuhkan pertolongan.

Di tempat lain, BPBD menyiapkan tim dan peralatan. Dinas Sosial mengonsolidasikan bantuan. Dinas Perhubungan membantu kesiapan mobilisasi. Dapur umum lapangan dari Kota dan Kabupaten Bima menyatakan kesiapannya untuk berangkat. Ambulans, kendaraan rescue, kendaraan operasional, truk, hingga alat berat mulai disiapkan.

Bantuan pun berdatangan.

Ada beras, bahan makanan, obat-obatan, perlengkapan kesehatan, tenda, terpal, selimut, matras, kebutuhan bayi dan perempuan, hingga berbagai perlengkapan yang dibutuhkan masyarakat dalam keadaan darurat.

Niat baik, seperti menemukan jalannya sendiri.

Sore hari, seluruh unsur kembali merapat di Pendopo Gubernur untuk memantapkan persiapan. Pada saat yang sama, Miq Iqbal melakukan pertemuan melalui sambungan virtual dengan Gubernur Bali I Wayan Koster.

Bali juga menyatakan kesiapan untuk bergerak.

Di tengah bencana yang melanda NTT, hubungan tiga provinsi kembali menemukan maknanya. Bali, NTB, dan NTT bukan sekadar daerah yang bertetangga. Ketiganya memiliki sejarah, kedekatan, dan kini dipersatukan dalam Kerja Sama Regional Bali–NTB–NTT atau KR-BNN.

Namun Miq Iqbal kembali menegaskan satu hal: Tim NTB harus diberangkatkan paling lambat keesokan harinya.

Tidak lebih dari 24 jam.

Keesokan harinya, Ahad, 16 Agustus 2026, seluruh persiapan kembali diperiksa. Personel telah tersedia. Logistik telah terkumpul. Kendaraan telah disiapkan. Peralatan telah dimuat.

Laporan kesiapan akhirnya disampaikan kepada Gubernur dan Wakil Gubernur NTB.

Tim Solidaritas KR-BNN NTB untuk Gempa M7,7 NTT siap diberangkatkan.

Sore itu, halaman BPBD Provinsi NTB dipenuhi kendaraan dan orang-orang yang datang untuk mengantar. Unsur TNI dan Polri hadir. Perangkat daerah, industri jasa keuangan, dunia usaha, BUMN, BUMD, lembaga kemanusiaan dan berbagai pihak lainnya ikut memberikan dukungan.

Pelepasan berlangsung tanpa kemewahan yang berlebihan.

Yang terasa justru haru.

Miq Iqbal mengingatkan satu hal yang menjadi dasar keberangkatan itu: NTB pernah berada dalam situasi yang sama.

Gempa Lombok tahun 2018 telah mengajarkan masyarakat NTB bagaimana rasanya kehilangan rumah, tinggal di pengungsian, menghadapi trauma dan ketidakpastian.

Ketika itu, bantuan datang dari banyak daerah.

Kini, NTB mendapat kesempatan untuk membalas kebaikan itu.

Bukan karena bantuan harus dibalas dengan bantuan.

Tetapi karena mereka yang pernah ditolong seharusnya memahami lebih baik bagaimana rasanya ketika orang lain membutuhkan pertolongan.

Pesan Gubernur sederhana: Tim NTB datang ke NTT sebagai saudara yang tidak ingin melihat saudaranya memikul beban musibah seorang diri.

Satu per satu kendaraan kemudian meninggalkan Mataram.

Di dalamnya ada manusia, peralatan, obat-obatan, makanan dan berbagai kebutuhan untuk menghadapi keadaan darurat.

Tetapi sesungguhnya, yang ikut berangkat bersama rombongan itu adalah pengalaman NTB menghadapi bencana.

Dari Mataram, tim bergerak menuju Sape, Bima. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan menyeberangi laut menuju Labuan Bajo. Setelah tiba, mereka tidak berhenti lama.

Koordinasi segera dilakukan bersama sistem penanganan bencana di NTT.

Posko transit dibangun. Tim dibagi. Tenaga kesehatan bergerak. Dapur umum menuju lokasi pelayanan. Logistik diturunkan dan disalurkan berdasarkan kebutuhan.

Kebijakan yang sebelumnya lahir di ruang kerja Gubernur kini telah berubah menjadi gerakan di lapangan.

Beberapa hari kemudian, Miq Iqbal memutuskan menyusul.

Ia menyeberangi laut menuju Bali untuk memenuhi komitmen bersama Gubernur Bali I Wayan Koster. Dari sana, bersama rombongan Gubernur Bali dan Pangdam IX/Udayana, ia terbang menuju Labuan Bajo.

Di Bandara Komodo, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena telah menunggu.

Tiga kepala daerah kemudian bertemu di Posko Utama Penanganan Gempa di Manggarai Barat.

Laporan kerusakan, kondisi pengungsi dan perkembangan penanganan dipaparkan. Bantuan terus bergerak. Namun kebutuhan masyarakat juga masih besar.

Di tengah pertemuan itu, tiga gubernur menyampaikan pesan yang sama dengan cara masing-masing: NTT tidak sendiri.

Bali, NTB, dan NTT hadir bukan sekadar dalam nama sebuah kerja sama regional.

KR-BNN menemukan bentuknya ketika salah satu saudara mengalami kesulitan dan dua saudara lainnya datang untuk membantu.

Dari Manggarai Barat, perjalanan Miq Iqbal dilanjutkan menuju Manggarai Timur bersama Gubernur NTT. Dengan helikopter TNI Angkatan Darat, keduanya terbang menuju wilayah yang menjadi salah satu pusat dampak gempa.

Sekitar 35 menit kemudian, mereka tiba.

Di sana, gempa tidak lagi hanya berupa angka magnitudo, peta kerusakan atau laporan situasi.

Gempa memiliki wajah.

Wajah ibu yang bertahan bersama anak-anaknya.

Wajah orang tua yang belum berani kembali ke rumah.

Wajah anak-anak yang harus tidur jauh dari kamar mereka sendiri.

Di Desa Satar Pudut, masyarakat menyampaikan kebutuhan yang mereka rasakan. Air bersih dan bahan makanan masih menjadi kebutuhan penting.

Miq Iqbal mendengarkan.

Ia kemudian berbicara dengan bahasa pengalaman.

NTB pernah merasakan hal yang sama. Karena itu, ia mengatakan kepada masyarakat agar tetap sabar, kuat dan tidak kehilangan semangat untuk bangkit.

Kehadiran seorang gubernur memang tidak dapat membangun kembali seluruh rumah dalam satu hari.

Tetapi kehadiran dapat menyampaikan sesuatu yang kadang tidak bisa dikirim melalui logistik: bahwa masyarakat tidak dilupakan.

Setelah Gubernur NTT kembali ke Labuan Bajo, Miq Iqbal melanjutkan perjalanan ke berbagai titik pengungsian.

Di sana ia melihat sendiri kehidupan yang sedang berusaha menyesuaikan diri dengan keadaan baru.

Ia menyapa. Mendengar. Membagikan bantuan.

Tidak ada jarak yang sengaja diciptakan antara seorang gubernur dan masyarakat yang sedang berada dalam kesulitan.

Dari tenda ke tenda, ia bertemu orang-orang yang mungkin tidak meminta banyak.

Mereka hanya ingin kebutuhan dasarnya terpenuhi dan mengetahui bahwa ada yang memperhatikan keadaan mereka.

Malam itu, Miq Iqbal memilih menginap di Dampe.

Lewat tengah malam, setelah evaluasi bersama tim, ia beristirahat di posko. Pukul empat dini hari, ia telah kembali terbangun.

Perjalanan berikutnya menuju Borong, ibu kota Kabupaten Manggarai Timur, menunggu.

Lebih dari enam jam perjalanan darat ditempuh.

Di Posko Utama Penanganan Gempa Kabupaten Manggarai Timur, ia bertemu Sekretaris Daerah bersama sejumlah kepala perangkat daerah dan Direktur RSUD Borong.

Di tempat itu, perjalanan kemanusiaan memasuki babak lain.

Bukan lagi sekadar bagaimana membawa bantuan secepat mungkin.

Tetapi bagaimana sebuah daerah yang pernah mengalami bencana dapat berbagi pengalaman untuk membantu daerah lain mempersiapkan masa pemulihan.

Miq Iqbal berbicara tentang pentingnya pendataan rumah yang rusak secara cepat dan akurat. Pemerintah daerah dapat menggandeng perguruan tinggi dengan kompetensi teknik sipil, konstruksi dan bidang terkait untuk melakukan asesmen kerusakan secara lebih terukur.

Setiap bangunan yang rusak perlu memiliki data, koordinat dan tingkat kerusakan yang jelas.

Data yang baik akan membantu pemerintah mengambil keputusan yang lebih cepat.

Keputusan yang tepat akan mempercepat rehabilitasi.

Dan rehabilitasi yang baik akan membuka jalan bagi masyarakat untuk kembali membangun kehidupan.

Namun ada pesan lain yang ia titipkan.

Dalam bencana, jangan terlalu sibuk mencari siapa yang salah.

Masyarakat yang sedang kehilangan rumah membutuhkan orang-orang yang bersedia bekerja bersama.

Kebersamaan, kata Miq Iqbal, adalah salah satu kekuatan terpenting dalam penanganan bencana.

Setelah beberapa jam di Borong, perjalanan kembali menuju Labuan Bajo dimulai.

Sekali lagi, jalan panjang harus ditempuh.

Di beberapa tempat, rombongan berhenti untuk beristirahat. Dan di tempat-tempat itu, masyarakat datang menyapa.

Ada yang meminta foto bersama.

Ada yang mengatakan bahwa mereka mengenali Gubernur NTB.

Mereka tahu, sejak awal gempa terjadi, NTB telah menyampaikan duka, mengirimkan tim, bantuan dan tenaga medis.

Mereka juga mengingat peristiwa lain yang bagi masyarakat Manggarai memiliki arti tersendiri.

Pada Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Mataram, ketika NTT sedang menghadapi duka akibat gempa, Miq Iqbal mengenakan pakaian adat Manggarai.

Pilihan itu mungkin sederhana.

Namun bagi sebagian warga di Flores, itu adalah bahasa perhatian.

Bahwa saudara di Mataram mengingat mereka.

Dari seluruh perjalanan itu, NTB sesungguhnya membawa pulang lebih dari sekadar pengalaman.

NTB membawa pelajaran.

Gempa Lombok 2018 telah membentuk banyak pengalaman dalam penanganan bencana. Tetapi pengalaman tidak boleh membuat sebuah daerah merasa sudah cukup siap.

Kesiapsiagaan harus terus diperkuat.

Data personel dan sumber daya harus selalu diperbarui. Mobilisasi tenaga medis harus memiliki mekanisme yang semakin cepat. Logistik harus memiliki jalur distribusi yang jelas. Rumah sakit, perangkat daerah, relawan, perguruan tinggi, dunia usaha dan masyarakat harus terus dipersatukan dalam sebuah sistem yang dapat segera bergerak ketika keadaan darurat datang.

Sebab dalam bencana, waktu sering kali menentukan seberapa jauh pertolongan dapat menyelamatkan kehidupan.

Namun dari masyarakat NTT, ada pelajaran yang lebih sunyi.

Ketabahan.

Di tengah rumah yang rusak, kehidupan yang terguncang dan ketakutan terhadap gempa susulan, masyarakat tetap menunjukkan kesabaran.

Mereka tidak selalu menuntut dengan suara keras.

Mereka tidak membutuhkan banyak janji.

Yang mereka perlukan adalah kepastian bahwa mereka diperhatikan.

Bahwa ada yang datang.

Bahwa ada yang mendengar.

Bahwa mereka tidak dibiarkan menghadapi masa sulit seorang diri.

Barangkali, itulah makna terdalam dari seluruh perjalanan ini.

Sebuah kebijakan dapat lahir dengan cepat di sebuah ruang kerja.

Tetapi kebijakan kemanusiaan baru menemukan jiwanya ketika keputusan itu menggerakkan manusia, membawa mereka menempuh perjalanan jauh, bekerja tanpa banyak menghitung lelah, lalu akhirnya hadir di hadapan masyarakat yang sedang kehilangan rasa aman.

Dari sebuah Sabtu pagi di Pendopo Gubernur NTB, sebuah keputusan diambil.

Kurang dari 24 jam kemudian, Tim Solidaritas bergerak.

Dari Mataram menuju Sape.

Dari Sape menuju Flores.

Dari sebuah keputusan menuju tindakan.

Dan dari tindakan menuju pelajaran.

Gempa M7,7 NTT mungkin telah merobohkan banyak bangunan, tetapi ia juga memperlihatkan bahwa ketika persaudaraan bergerak, jarak antarpulau dapat terasa begitu dekat.

Bagi NTB, perjalanan ini menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan harus terus diperkuat, kecepatan harus menjadi budaya, dan kebersamaan harus menjadi kekuatan.

Sementara bagi mereka yang berada di tenda-tenda pengungsian, mungkin yang paling penting bukan hanya bantuan yang datang, tetapi keyakinan yang menyertainya:

bahwa ketika mereka sedang berusaha bangkit, mereka tidak berjalan sendirian.

Dan dari situlah, barangkali, semangat untuk bangkit perlahan dimulai.