Pojok NTB – Produk kerajinan anyaman ketak asal Lombok kembali menembus pasar internasional. PT Fatih Craft Lombok melepas ekspor tiga kontainer produk home decor berbahan anyaman ketak ke Jerman, Belgia, dan Malaysia.
Pelepasan ekspor dilakukan Ketua Dekranasda Provinsi NTB Sinta M. Iqbal bersama Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) NTB Lalu Wiranata.
Ekspor ini menjadi salah satu bukti bahwa produk kerajinan NTB memiliki peluang besar untuk bersaing di pasar global. Bahkan, permintaan terhadap produk PT Fatih Craft Lombok disebut terus meningkat.
Lalu Wiranata mengatakan, PT Fatih Craft Lombok telah beberapa kali melakukan ekspor. Menariknya, pemasaran produk tersebut awalnya berkembang melalui media sosial Facebook.
“Ini sebenarnya sudah beberapa kali diekspor. Agak uniknya, belinya, bayarnya di Facebook,” ujar Lalu Wiranata.
Dalam pengiriman kali ini, nilai produk yang diekspor mencapai sekitar Rp500 juta, dengan melibatkan hampir 100 perajin. Pemerintah pun mendorong agar jumlah perajin terus ditambah untuk memenuhi permintaan pasar yang semakin besar.
Menurut Lalu Wiranata, pemerintah tidak ingin produk lokal NTB hanya dikirim dalam bentuk bahan mentah. Proses pengolahan hingga produk siap ekspor harus semakin banyak dilakukan di daerah agar nilai tambahnya dinikmati masyarakat NTB.
“Yang penting sekarang proses, nggak ada lagi kita kirim mentah keluar,” tegasnya.
Dekranasda NTB Sinta M. Iqbal menyoroti pentingnya inovasi dan penguatan identitas daerah pada produk kerajinan NTB.
Menurutnya, masih ada produk kerajinan daerah yang setelah keluar dari NTB mengalami proses pengembangan di daerah lain, sehingga nilai jualnya meningkat dan identitas asal produknya tidak lagi terlihat kuat.
Ia mendorong para perajin agar lebih terbuka terhadap inovasi sehingga produk yang dihasilkan memiliki nilai jual lebih tinggi sekaligus mampu membawa nama Lombok ke pasar internasional.
Sinta juga mengapresiasi langkah PT Fatih Craft Lombok yang dinilai bisa menjadi contoh bagi para perajin lainnya.
“Kami ingin mengajak teman-teman pengrajin ini untuk semakin terbuka. Seperti yang sudah dilakukan oleh Fatih Craft ini, supaya bisa memotivasi,” katanya.
Di sisi lain, pemerintah juga tengah mencari solusi terkait ketersediaan bahan baku anyaman ketak. Saat ini, bahan baku masih didatangkan dari luar daerah melalui jalur yang cukup panjang.
Padahal, NTB memiliki potensi bahan baku di Sumbawa. Pemerintah berencana menjajaki kerja sama dengan para pihak di Sumbawa agar bahan tersebut dapat diproduksi dan diolah lebih dekat dengan sentra industri.
Lalu Wiranata menjelaskan, saat ini bahan baku harus melalui sejumlah tahapan distribusi, dari Kalimantan ke Jawa dan kemudian ke NTB. Jika dapat diproduksi langsung di Sumbawa, rantai distribusi tersebut dapat dipangkas sehingga biaya produksi lebih efisien.
Pemerintah Provinsi NTB juga mendorong agar ke depan kegiatan ekspor dapat dilakukan langsung dari daerah.
Lalu Wiranata menyebut belum tersedianya fasilitas pelabuhan kontainer untuk ekspor langsung menjadi salah satu kendala. Akibatnya, produk NTB masih harus dikirim terlebih dahulu ke Surabaya atau daerah lain sebelum diberangkatkan ke negara tujuan.
Pemerintah berharap pengembangan Pelabuhan Gili Mas ke depan dapat mendukung aktivitas ekspor langsung dari NTB.
Dengan ekspor langsung, nilai ekonomi dari aktivitas perdagangan luar negeri diharapkan lebih banyak tercatat dan memberikan manfaat bagi daerah.
“Ekspornya langsung dari sini, sehingga devisanya juga kita dapat, cukainya juga kita dapat,” jelasnya.
Sementara itu, Sinta M. Iqbal menilai regenerasi perajin juga menjadi tantangan yang harus segera dijawab. Karena itu, Dekranasda NTB mulai mendorong pengenalan kerajinan kepada pelajar, khususnya melalui SMK, SMA, hingga SLB.
Langkah tersebut diharapkan dapat membuka wawasan generasi muda bahwa industri kerajinan memiliki prospek ekonomi dan peluang pasar yang luas.
“Sekarang kita masih di tahap ingin memperkenalkan kepada adik-adik ini bahwa ada ini loh yang bisa kalian kerjakan, dan ini ada masa depannya,” ujarnya.
Menurut Sinta, semakin banyak anak muda yang mengenal dan terlibat dalam industri kreatif, semakin besar peluang NTB memiliki regenerasi perajin yang mampu menghasilkan produk inovatif dan berdaya saing global.
Ekspor tiga kontainer produk home decor anyaman ketak PT Fatih Craft Lombok ini pun menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa kerajinan lokal tidak hanya mampu bertahan di pasar domestik, tetapi juga memiliki tempat di pasar internasional.












