Ekonomi NTB Tumbuh 7,41 Persen, Kemiskinan dan Pengangguran Turun

Pojok NTB – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat kinerja ekonomi daerah menunjukkan tren positif pada Triwulan II 2026. Pertumbuhan ekonomi mencapai 7,41 persen secara tahunan (year-on-year), diikuti penurunan angka kemiskinan, pengangguran, hingga ketimpangan pengeluaran masyarakat.

Kepala BPS Provinsi NTB, Wahyudin, menjelaskan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) NTB atas dasar harga berlaku pada Triwulan II 2026 mencapai Rp53,91 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan mencapai Rp29,89 triliun.

“Secara tahunan, ekonomi NTB tumbuh 7,41 persen. Pendorong utamanya berasal dari sektor pertambangan dan penggalian yang tumbuh 30,57 persen,” ujarnya saat merilis Berita Resmi Statistik, Rabu (5/8).

Menurutnya, peningkatan produksi konsentrat tembaga yang didukung kebijakan relaksasi ekspor hingga April 2026 menjadi faktor utama yang mendorong pertumbuhan sektor pertambangan. Selain itu, industri pengolahan juga tumbuh 7,45 persen berkat meningkatnya aktivitas smelter dan produksi industri makanan-minuman untuk memenuhi kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa menjadi motor pertumbuhan dengan kenaikan mencapai 49,42 persen, didorong meningkatnya ekspor komoditas pertambangan dan hasil industri pengolahan.

Tak hanya ekonomi, kondisi ketenagakerjaan di NTB juga menunjukkan perbaikan. Hingga Mei 2026, jumlah angkatan kerja mencapai 3,24 juta orang, dengan jumlah penduduk bekerja sebanyak 3,14 juta orang. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun tipis menjadi 2,98 persen.

Sektor pertanian masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan 1,07 juta pekerja atau sekitar 33,95 persen dari total tenaga kerja. Peningkatan luas panen padi serta produksi gabah menjadi salah satu faktor bertambahnya tenaga kerja di sektor tersebut.

Di sisi lain, angka kemiskinan NTB juga mengalami penurunan. Persentase penduduk miskin pada Maret 2026 tercatat 11,17 persen, turun dibandingkan September 2025 maupun Maret 2025. Jumlah penduduk miskin kini menjadi 628,50 ribu jiwa, atau berkurang sekitar 26 ribu orang dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Penurunan tersebut dipengaruhi oleh membaiknya penyaluran bantuan sosial, meningkatnya penyerapan tenaga kerja, serta kenaikan pendapatan masyarakat. Program MBG juga dinilai memberikan kontribusi terhadap penurunan kemiskinan melalui penyerapan lebih dari 31 ribu tenaga kerja lokal.

BPS juga mencatat ketimpangan pengeluaran masyarakat terus membaik. Nilai Gini Ratio NTB turun dari 0,364 pada September 2025 menjadi 0,358 pada Maret 2026. Angka tersebut menempatkan NTB dalam kategori ketimpangan rendah menurut standar Bank Dunia.

Meski demikian, BPS mencatat masih terdapat tantangan di wilayah perdesaan. Jumlah penduduk miskin di desa mengalami kenaikan tipis dibandingkan September 2025, sementara kemiskinan di perkotaan mengalami penurunan yang lebih signifikan.

Secara keseluruhan, berbagai indikator tersebut menunjukkan perekonomian NTB pada semester pertama 2026 bergerak ke arah yang lebih baik, ditopang oleh kuatnya sektor pertambangan, industri pengolahan, ekspor, serta berbagai program pemerintah yang mampu menjaga daya beli masyarakat dan memperluas kesempatan kerja.

Penulis: HayyanEditor: Hayyan