Wagub NTB Pastikan Pemprov Dampingi Korban Santri Terbakar, Berharap Kasus Tak Terulang

Pojok NTB – Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Indah Dhamaryanti Putri, menegaskan Pemerintah Provinsi NTB terus memberikan perhatian terhadap kasus santri yang menjadi korban kebakaran dan kini tengah menjadi pembahasan di Komisi III DPR RI.

Indah mengatakan, sejak awal Pemprov NTB melalui Dinas Sosial telah melakukan pendampingan kepada korban dan keluarga, termasuk membantu proses keberangkatan korban untuk menjalani pengobatan.

“Teman-teman dari Dinas Sosial sudah melakukan pendampingan, termasuk ikut membantu memfasilitasi keberangkatan korban bersama keluarganya,” ujar Indah.

Ia menyebut korban dijadwalkan kembali ke NTB pada Selasa. Wagub juga mengaku berencana menjenguk korban setelah kepulangannya. Sebelumnya, rencana tersebut sempat tertunda karena korban berangkat lebih awal dari jadwal yang diperkirakan.

“Insya Allah nanti ada rencana untuk menjenguk. Kemarin sebenarnya ingin bertemu, tetapi mereka berangkat pagi sehingga saya tidak sempat,” katanya.

Terkait perhatian Komisi III DPR RI terhadap kasus tersebut, Indah berharap peristiwa serupa tidak lagi terjadi, terutama di lingkungan lembaga pendidikan.

“Kita berharap kejadian ini tidak terulang lagi. Kita juga belum bisa menyimpulkan penyebab pasti kejadian tersebut karena masih dalam proses. Yang jelas, peristiwa seperti ini jangan sampai kembali terjadi, baik di NTB maupun di Indonesia,” tegasnya.

Mengenai pembiayaan pengobatan korban, Indah mengatakan pemerintah akan membahasnya bersama seluruh pihak terkait. Namun, menurutnya, saat ini fokus utama adalah menghormati proses hukum yang sedang berjalan.

“Untuk pengobatan korban nanti akan kita komunikasikan bersama. Sekarang kasus ini sudah ditangani aparat penegak hukum, sehingga kita juga menunggu perkembangan proses hukumnya,” ujarnya.

Saat ditanya mengenai adanya perbedaan pandangan antara pemerintah pusat dan daerah terkait penanganan kasus tersebut, Indah memilih tidak memberikan komentar lebih jauh.

“Kita belum berani berkomentar,” tutupnya.