Pojok NTB – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat mencatat inflasi tahunan (year on year/y-on-y) NTB pada Juni 2026 mencapai 3,55 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,60. Di tengah kenaikan harga sejumlah komoditas, sektor pertanian dan pariwisata justru menunjukkan tren positif yang menjadi penopang perekonomian daerah.
Kepala BPS NTB, Wahyudin, menjelaskan inflasi tertinggi terjadi di Kota Bima sebesar 4,88 persen, sedangkan yang terendah berada di Kabupaten Sumbawa sebesar 2,85 persen.
Kenaikan harga dipicu oleh seluruh kelompok pengeluaran, terutama kelompok makanan, minuman dan tembakau yang naik 4,13 persen serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang melonjak hingga 14 persen.
“Tekanan inflasi Juni terutama berasal dari kenaikan harga bensin dan tarif angkutan udara setelah penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Turbo serta meningkatnya biaya operasional penerbangan,” demikian catatan BPS NTB.
Selain transportasi, komoditas pangan seperti bawang merah, bawang putih, cumi-cumi, dan kol putih turut menyumbang kenaikan inflasi akibat terbatasnya pasokan di pasar. Namun, laju inflasi berhasil tertahan oleh turunnya harga cabai rawit, daging ayam ras, dan emas perhiasan.
Secara bulanan, inflasi NTB pada Juni 2026 tercatat sebesar 0,37 persen, sedangkan inflasi tahun kalender (year to date) mencapai 2,12 persen.
Di sektor pertanian, kabar menggembirakan datang dari meningkatnya Nilai Tukar Petani (NTP) NTB yang pada Juni 2026 mencapai 130,95 atau naik 0,39 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Peningkatan ini didorong oleh kenaikan harga gabah, jagung, tomat, kacang tanah, dan bawang putih yang membuat pendapatan petani tumbuh lebih cepat dibandingkan kenaikan biaya produksi dan konsumsi rumah tangga.
Empat subsektor mencatat NTP di atas angka 100, yakni tanaman pangan sebesar 121, hortikultura 244,84, peternakan 116,13, dan perikanan 108,85. Hanya subsektor perkebunan rakyat yang masih berada di bawah 100 dengan nilai 97,78.
Sementara itu, sektor pariwisata NTB juga memperlihatkan performa yang semakin membaik. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang pada Mei 2026 mencapai 41,07 persen atau meningkat 5,01 poin dibandingkan April 2026.
Jumlah wisatawan nusantara melonjak menjadi 1,33 juta orang atau naik 10,49 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatan tersebut dipicu oleh momentum libur panjang serta sejumlah event internasional dan olahraga besar yang digelar di NTB.
Ajang GT World Challenge Asia di Mandalika dan Rinjani 100 Ultra 2026 di Sembalun disebut menjadi faktor penting yang mendorong mobilitas wisatawan domestik.
Meski demikian, jumlah wisatawan mancanegara yang masuk melalui Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) menurun menjadi 7.987 orang dari sebelumnya 8.686 orang pada April 2026, terutama akibat berkurangnya penerbangan dari Kuala Lumpur.
Di bidang transportasi, aktivitas pelabuhan dan bandara menunjukkan peningkatan pergerakan penumpang. Jumlah penumpang laut yang datang mencapai 90,17 ribu orang dan yang berangkat sebanyak 92,19 ribu orang pada Mei 2026, masing-masing naik sekitar 16 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Penumpang penerbangan domestik yang datang juga meningkat menjadi 102.521 orang, didorong oleh bertambahnya arus penumpang dari Denpasar dan Labuan Bajo.
Sementara itu, kinerja perdagangan luar negeri NTB memperlihatkan dinamika yang beragam. Secara kumulatif Januari–Mei 2026, nilai ekspor NTB mencapai US$1,26 miliar atau melonjak lebih dari 1.000 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Namun khusus Mei 2026, nilai ekspor tercatat sebesar US$15,81 juta atau turun 70,90 persen secara tahunan. Penurunan ini dipengaruhi berkurangnya ekspor tembaga hasil smelter dan mutiara yang belum diolah.
Tembaga masih menjadi komoditas ekspor utama dengan kontribusi hampir 69 persen, disusul ikan dan udang sebesar 23,85 persen. Pasar utama ekspor NTB meliputi Tiongkok, Thailand, dan Amerika Serikat.
Di sisi lain, nilai impor NTB sepanjang Januari–Mei 2026 mencapai US$36,48 juta atau turun 71,70 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi berkurangnya impor mesin, barang modal, serta bahan baku industri.
Secara keseluruhan, data BPS menunjukkan perekonomian NTB pada pertengahan 2026 masih ditopang oleh membaiknya daya beli petani, meningkatnya aktivitas pariwisata, dan tingginya mobilitas masyarakat, meskipun tekanan inflasi akibat kenaikan harga energi dan transportasi masih menjadi tantangan yang perlu diantisipasi.












