Pojok NTB – Pemerintah Provinsi NTB bergerak cepat menyikapi insiden ambruknya dua ruang kelas di SMAN 7 Mataram yang terjadi pada Selasa siang (19/5/2026) sekitar pukul 12.30 WITA.
Kepala Dinas Dikpora NTB, Syamsul Hadi mengatakan pihaknya telah berkomunikasi dengan pemerintah pusat dan mendapat sinyal positif terkait bantuan revitalisasi bangunan sekolah tersebut.
“Insyaallah segera kita tindak lanjuti. Ada perhatian khusus terkait musibah yang terjadi di SMA 7,” ujar Syamsul Hadi.
Ia menjelaskan, Pemprov NTB telah menyampaikan kepada kementerian bahwa terdapat dua ruang kelas yang ambruk akibat faktor usia bangunan yang dinilai sudah cukup tua dan membutuhkan revitalisasi total.
“Bangunan itu dibangun sekitar tahun 2000. Jadi sekarang usianya sudah 20 tahun dan memang membutuhkan revitalisasi kembali,” katanya.
Menurut Syamsul, proposal bantuan kini tengah disiapkan dan akan segera diajukan ke pemerintah pusat. Namun, proses realisasinya masih bergantung pada kelengkapan administrasi dan keputusan kementerian terkait.
“Kita tetap melakukan komunikasi intensif karena layanan pendidikan dan kebutuhan ruang kelas di sana harus segera terpenuhi,” tambahnya.
Terkait penyebab bangunan ambruk, Syamsul mengaku pihaknya belum mengetahui secara pasti proses perencanaan hingga pengawasan proyek pembangunan sekolah saat itu.
“Kita tidak tahu bagaimana perencanaannya, pengawasannya, maupun tenaga ahli saat pembangunan dulu,” ungkapnya.
Sebagai langkah antisipasi agar kejadian serupa tidak terjadi di sekolah lain, Dikpora NTB telah mengeluarkan surat edaran kepada seluruh SMA, SMK, dan SLB di NTB untuk melakukan pengecekan kondisi bangunan sekolah masing-masing.
“Kami meminta seluruh sekolah segera melakukan mitigasi dan antisipasi agar kejadian seperti di SMA 7 tidak terulang,” tegasnya.
Saat ini terdapat sekitar 271 sekolah negeri tingkat SMA, SMK, dan SLB di bawah kewenangan Pemprov NTB.
Sementara untuk proses belajar siswa terdampak, pihak sekolah memanfaatkan ruang kelas siswa kelas 12 yang telah selesai menjalani ujian semester.
“Untuk sementara menggunakan ruang kelas 12 yang sudah kosong,” jelas Syamsul.
Dalam insiden tersebut, lima siswa sempat menjadi korban. Empat siswa telah diperbolehkan pulang karena hanya mengalami luka ringan, sedangkan satu siswa lainnya sempat menjalani observasi akibat trauma.
“Alhamdulillah semuanya dalam kondisi baik dan tidak ada luka serius,” katanya.
Pemprov NTB juga memastikan seluruh biaya pengobatan dan perawatan korban akan ditanggung hingga sembuh total.
“Pembiayaan sampai perawatan ditanggung pemerintah provinsi sampai sehat,” tutup Syamsul Hadi.












