Utang RSUP NTB Lunas, Manajemen Baru Siapkan Reformasi Keuangan dan Layanan

Pojok NTB – Manajemen baru RSUP NTB memastikan seluruh utang rumah sakit yang sempat mencapai puluhan miliar rupiah kini telah lunas.

Wakil Direktur RSUP NTB, Baiq Nelly Kusumawati mengatakan pelunasan utang menjadi langkah awal untuk membangun tata kelola keuangan rumah sakit yang lebih sehat dan tertib.

“Utangnya sudah lunas, alhamdulillah. Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT,” ujarnya.

Menurut Nelly, manajemen kini mulai melakukan pembenahan menyeluruh agar persoalan serupa tidak kembali terjadi. Salah satu langkah utama adalah memperketat perencanaan keuangan dengan menyesuaikan kebutuhan riil dan potensi pendapatan rumah sakit.

“Kami mulai mapping dari sekarang, semua wadir bersama jajarannya mempresentasikan rencana kerja masing-masing agar perencanaan lebih akurat,” katanya.

Selain itu, RSUP NTB juga membentuk satgas aset untuk mendata seluruh aset rumah sakit yang berdiri di atas lahan seluas sekitar tujuh hektare. Pendataan dilakukan mulai dari kondisi ruangan, aset rusak ringan, rusak berat hingga aset yang tidak lagi digunakan.

“Semua aset kita mapping supaya tahu mana yang masih layak, mana yang harus dihapuskan, dan mana yang bisa dimanfaatkan kembali,” jelasnya.

Nelly menyebut, aset-aset rusak berat nantinya dapat dihapus dan dimanfaatkan kembali sebagai tambahan pendapatan rumah sakit. Di sisi lain, optimalisasi lahan dan ruangan juga akan dilakukan untuk membuka sumber pemasukan baru.

“Aula, lahan kosong, hingga spot tertentu akan kita optimalkan. Ada rencana membuat food court, arena gym kesehatan, dan pemanfaatan ruangan yang sebelumnya kurang optimal,” ungkapnya.

Manajemen RSUP NTB juga tengah melakukan appraisal terhadap aset dan lahan rumah sakit guna memastikan seluruh potensi pendapatan dapat dimaksimalkan.

Tak hanya fokus pada aset, pembenahan juga dilakukan pada sistem pengadaan obat-obatan dan alat kesehatan. RSUP NTB berencana melakukan konsolidasi vendor serta menerapkan sistem digital CMRS agar pelayanan dan pencatatan keuangan lebih terintegrasi.

“Dengan CMRS semuanya akan lebih terukur, mulai dari pendaftaran pasien, pelayanan, hingga laporan keuangan. Harapannya tidak ada lagi keluhan antrean panjang atau keterlambatan obat,” katanya.

Terkait jasa pelayanan (Jaspel) pegawai yang sebelumnya sempat dikurangi akibat beban utang rumah sakit, Nelly memastikan manajemen akan mulai menaikkannya secara bertahap.

“Kami tetap memperhatikan kesejahteraan pegawai, terutama tenaga kesehatan sebagai garda terdepan. Kenaikan Jaspel akan dilakukan bertahap sesuai kemampuan pendapatan rumah sakit,” ujarnya.

Saat ini RSUP NTB memiliki sekitar 2.600 pegawai dan seluruhnya disebut akan mendapatkan penyesuaian Jaspel secara bertahap.

“Kita tidak ingin menzalimi hak pegawai. Kalau kita menuntut pelayanan yang baik, maka hak mereka juga harus diperhatikan sesuai kinerja,” tegas Nelly.

Manajemen baru RSUP NTB optimistis dengan berbagai inovasi dan pembenahan yang dilakukan, rumah sakit daerah terbesar di NTB itu dapat menjadi rumah sakit yang sehat, mandiri, dan surplus di masa mendatang.

Penulis: HayyanEditor: Hayyan