Pojok NTB — Isu aktivitas pertambangan ilegal (illegal mining) dinilai dapat berdampak terhadap perkembangan pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB), terutama di tengah meningkatnya tren wisata berkelanjutan atau eco tourism.
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) NTB, Ahmad Nur Aulia, mengatakan seluruh potensi sektor yang dimiliki NTB harus dapat dikembangkan secara optimal dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.
Menurutnya, aktivitas pertambangan dan pariwisata harus dapat berjalan beriringan. Namun, kegiatan pertambangan harus memiliki standar yang jelas agar tidak merusak ekosistem di sekitarnya.
“Harus dipastikan standarisasinya, jangan sampai merusak ekosistem lingkungan yang ada di sekitar. Ini menjadi penting sekali,” ujar Ahmad.
Ia menegaskan, persoalan lingkungan kini menjadi perhatian penting dalam industri pariwisata global. Terlebih, wisatawan dari negara-negara Barat semakin mempertimbangkan aspek keberlanjutan dan kondisi lingkungan sebelum memilih destinasi.
“Tren pariwisata ke depan itu keberlanjutan dan aspek lingkungan menjadi salah satu alat ukur kunjungan wisatawan, terutama dari negara Barat,” katanya.
Karena itu, Ahmad menyebut isu illegal mining harus menjadi perhatian bersama. Menurutnya, menjaga lingkungan bukan hanya berkaitan dengan kelestarian alam, tetapi juga menyangkut keberlangsungan dan daya tarik pariwisata NTB.
Ia berharap seluruh pihak dapat memastikan setiap aktivitas ekonomi tetap memperhatikan keseimbangan lingkungan, sehingga pengembangan pariwisata NTB dapat berlangsung secara berkelanjutan.












