DPMPTSP NTB Optimistis Investasi Tembus Target, UMKM Jadi Motor Pertumbuhan

Pojok NTB – Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi NTB optimistis realisasi investasi tahun 2026 mampu melampaui capaian tahun sebelumnya. Kepala DPMPTSP NTB, Irnadi Kusuma, menyebut kontribusi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi salah satu faktor utama yang mendorong lonjakan investasi di daerah.

Irnadi menjelaskan, realisasi investasi Semester I 2026 telah memasukkan investasi dari sektor UMKM, sehingga menggambarkan kondisi investasi yang lebih utuh. Menurutnya, capaian tahun ini jauh lebih baik dibandingkan periode yang sama pada 2025.

“Pada semester pertama tahun lalu, dengan target sekitar Rp61,9 triliun, capaian kita bahkan belum mencapai seperempat target. Tahun ini target meningkat menjadi sekitar Rp64 triliun dan capaian semester pertama sudah mencapai sekitar 27 persen. Ini menunjukkan tren yang sangat positif,” ujarnya.

Ia menilai, besarnya kontribusi UMKM menjadi salah satu penopang utama peningkatan investasi di NTB. Data yang digunakan pun merupakan rilis resmi dari Kementerian Investasi, sehingga menjadi acuan nasional dalam mengukur capaian investasi daerah.

Untuk investasi non-UMK pada Triwulan II 2026, PMDN masih mendominasi dengan nilai sekitar Rp12,41 triliun atau 81,85 persen, sedangkan PMA mencapai Rp2,73 triliun atau 18,15 persen. Meski realisasi PMA tahun lalu belum memenuhi target, DPMPTSP optimistis investasi asing akan meningkat pada triwulan berikutnya.

Dari sisi wilayah, Kabupaten Sumbawa Barat masih menjadi penyumbang investasi terbesar dengan nilai lebih dari Rp11 triliun, disusul Kabupaten Dompu yang berhasil menyalip Kota Mataram dan menempati posisi kedua. Sementara Lombok Tengah tetap bertahan di tiga besar berkat perkembangan investasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika dan sektor pariwisata.

Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) masih mendominasi investasi dengan porsi sekitar 79 persen, diikuti sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, perindustrian, perdagangan, serta PUPR. Irnadi berharap ke depan sektor UMKM mampu tumbuh lebih kuat sehingga komposisi investasi NTB tidak hanya bergantung pada sektor pertambangan.

Untuk investasi UMKM, realisasi Semester I 2026 telah mencapai sekitar Rp496 miliar. DPMPTSP menargetkan angka tersebut dapat menembus Rp1 triliun hingga akhir tahun.

Selain mengejar target investasi, DPMPTSP juga terus memperkuat ekosistem UMKM melalui kemudahan perizinan berbasis OSS-RBA, perlindungan usaha, perluasan akses pembiayaan, pelatihan peningkatan kapasitas SDM, hingga digitalisasi pemasaran.

“Kami ingin UMKM tidak lagi menjadi pelaku usaha yang tertinggal. UMKM harus mendapat ruang yang sama untuk tumbuh dan menjadi kekuatan utama investasi di NTB,” tegas Irnadi.