Pojok NTB – Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat kemajuan dalam pembangunan manusia dengan menurunnya ketimpangan gender. Namun di saat yang sama, daerah ini mulai memasuki fase transisi menuju masyarakat menua (ageing population), yang membawa tantangan baru di bidang sosial dan ekonomi.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB, Wahyudin, menyampaikan bahwa capaian tersebut mencerminkan perbaikan struktur sosial, sekaligus menjadi sinyal penting bagi pemerintah untuk bersiap menghadapi perubahan demografi.
“Penurunan ketimpangan gender merupakan indikator positif, tetapi di sisi lain kita juga harus mulai bersiap menghadapi peningkatan jumlah lansia,” ujarnya dalam rilis statistik terbaru.
Berdasarkan data BPS, Indeks Ketimpangan Gender (IKG) NTB tahun 2025 turun menjadi 0,515, membaik sebesar 0,015 poin dibandingkan tahun sebelumnya. Perbaikan ini didorong oleh peningkatan pada aspek kesehatan reproduksi dan pemberdayaan perempuan.
Cakupan persalinan di fasilitas kesehatan mencapai 83,82 persen, sementara persalinan yang ditangani tenaga kesehatan hampir menyentuh angka sempurna, yakni 99,15 persen. Selain itu, angka pernikahan usia anak berhasil ditekan dari 14,96 persen pada 2024 menjadi 11,31 persen pada 2025.
Dari sisi kebijakan, penguatan program responsif gender turut berkontribusi signifikan, dengan alokasi anggaran mencapai 8,53 persen dari realisasi APBD. Program ini difokuskan pada peningkatan akses perempuan di sektor pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.
Di tengah capaian tersebut, NTB juga menghadapi dinamika baru. Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 menunjukkan proporsi penduduk lanjut usia telah mencapai 9,72 persen, mendekati ambang ageing population.
“Ini adalah fase transisi yang penting. Jika tidak dipersiapkan dengan baik, perubahan struktur penduduk dapat menjadi tantangan bagi sistem sosial dan ekonomi,” jelas Wahyudin.
Laju pertumbuhan penduduk NTB tercatat sebesar 1,58 persen per tahun, dengan rasio ketergantungan mencapai 48,77. Angka ini menunjukkan meningkatnya beban penduduk usia produktif dalam menopang kelompok usia nonproduktif.
Di sisi lain, kualitas hidup masyarakat juga menunjukkan tren positif. Angka Kematian Bayi (IMR) turun menjadi 21,03, didukung oleh peningkatan layanan kesehatan dan cakupan imunisasi. Sementara Angka Kelahiran Total (TFR) menurun menjadi 2,38, mencerminkan perubahan pola pikir masyarakat serta meningkatnya usia kawin pertama perempuan.
Mobilitas penduduk pun menunjukkan perkembangan yang dinamis. Sejumlah kabupaten/kota di NTB kini menjadi daerah tujuan migrasi, menandakan meningkatnya aktivitas ekonomi dan daya tarik wilayah. Namun, Kota Mataram tercatat mengalami migrasi neto negatif.
Secara keseluruhan, NTB berada dalam fase penting transformasi sosial dan demografi. Penurunan ketimpangan gender menjadi fondasi kemajuan, namun perubahan struktur penduduk menuntut kebijakan yang adaptif dan berorientasi jangka panjang.
“Ke depan, tantangannya bukan hanya menjaga tren positif ini, tetapi memastikan perubahan demografi dapat dikelola menjadi peluang pembangunan yang berkelanjutan,” pungkas Wahyudin.












