Pojok NTB – Memasuki akhir Maret 2026, dinamika harga pangan di Indonesia menunjukkan tren meningkat di sejumlah komoditas utama. Namun di sisi lain, indikator pertumbuhan sektor pertanian dan ketersediaan pangan masih memberikan sinyal positif bagi stabilitas ekonomi nasional.
Berdasarkan rilis terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi pada Februari 2026 tercatat 0,68 persen (month-to-month), dengan inflasi tahunan mencapai 4,76 persen (year-on-year)—menjadi salah satu yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
Kenaikan inflasi ini terutama didorong oleh kelompok pangan, yang kembali menjadi motor utama tekanan harga di masyarakat.
Harga Pangan Naik: Cabai hingga Telur Jadi Pemicu
Kenaikan harga pangan terus berlanjut hingga Maret 2026. Data BPS menunjukkan bahwa pada pekan kedua Maret, 25 provinsi mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH), termasuk Nusa Tenggara Barat yang naik sekitar 1,71 persen.
Komoditas yang paling memicu lonjakan harga antara lain:
- Cabai rawit
- Daging ayam ras
- Telur ayam ras
- Daging sapi
Bahkan, harga cabai rawit secara nasional sempat berada di kisaran Rp71.429/kg pada awal Maret, menunjukkan tekanan tinggi pada komoditas hortikultura.
Sementara itu, data Kementerian Perdagangan per pertengahan Maret mencatat harga:
- Daging sapi: ±Rp136.108/kg
- Daging ayam: ±Rp40.462/kg
- Telur ayam: ±Rp30.879/kg
- Cabai merah: ±Rp41.630/kg
- Minyak goreng: ±Rp21.180/liter
Lonjakan ini terjadi di tengah meningkatnya permintaan menjelang Ramadan dan Idulfitri.
Pertumbuhan Sektor Pangan: Petani Diuntungkan, Produksi Meningkat
Di balik kenaikan harga, sektor pertanian justru menunjukkan pertumbuhan yang cukup kuat. BPS mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Februari 2026 mencapai 125,45, naik 1,50 persen dibanding bulan sebelumnya.
Kenaikan ini menandakan bahwa pendapatan petani meningkat lebih cepat dibanding pengeluaran mereka—indikasi positif bagi kesejahteraan petani.
Selain itu:
- Produksi padi Januari 2026 naik 38,69 persen dibanding tahun sebelumnya
- Luas panen meningkat 35,72 persen
Dari sisi pasokan, pemerintah juga memastikan kondisi relatif aman. Neraca pangan nasional triwulan I 2026 menunjukkan surplus beras hingga 14,83 juta ton, serta surplus pada komoditas jagung, ayam, dan telur.
Inflasi Pangan Masih Terkendali, Tapi Perlu Waspada
Meski harga naik, pemerintah menilai inflasi pangan masih dalam batas terkendali. Komponen pangan bergejolak (volatile food) tercatat:
- 2,50 persen (bulanan)
- 4,64 persen (tahunan)
Namun, BPS mengingatkan bahwa komoditas dengan konsumsi tinggi seperti beras, ayam, dan telur memiliki dampak besar terhadap inflasi jika tidak dikendalikan.
Per 28 Maret 2026, kondisi pangan Indonesia berada dalam dua sisi yang kontras:
- Harga pangan naik dipicu permintaan tinggi dan distribusi
- Pertumbuhan sektor pertanian positif, ditandai produksi meningkat dan kesejahteraan petani membaik
Kombinasi ini menunjukkan bahwa tantangan utama bukan hanya produksi, tetapi stabilitas distribusi dan pengendalian harga di tingkat konsumen, terutama menjelang puncak konsumsi Lebaran.












