Pojok NTB – Hasil kajian terbaru dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menunjukkan bahwa aktivitas PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN) memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian Nusa Tenggara Barat. Bahkan pada 2024, kontribusi perusahaan tambang tersebut diperkirakan mencapai lebih dari 22 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) provinsi.
Kajian bertajuk Analisis Dampak Makroekonomi dan Sosial Ekonomi PT Amman Mineral Nusa Tenggara itu menilai dampak kegiatan pertambangan, pembangunan smelter, serta program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) AMMAN sepanjang periode 2018–2024.
Penelitian menggunakan pendekatan analisis Inter-Regional Input-Output (IRIO) dan kerangka economic multiplier untuk melihat dampak ekonomi dari belanja investasi, operasional perusahaan, serta berbagai program pemberdayaan masyarakat terhadap perekonomian nasional maupun daerah.
Hasilnya menunjukkan bahwa aktivitas AMMAN menjadi salah satu penggerak utama ekonomi NTB. Selama periode kajian, aktivitas perusahaan menghasilkan tambahan output ekonomi sebesar Rp224,3 triliun di NTB dan menyumbang Rp147 triliun terhadap pembentukan PDRB provinsi.
Rata-rata kontribusi tersebut mencapai sekitar Rp21 triliun per tahun atau setara 13,3 persen dari total PDRB NTB. Pada 2024 saja, kontribusinya meningkat signifikan hingga Rp40,6 triliun atau sekitar 22,3 persen dari total PDRB NTB.
Kepala Kajian Natural Resources and Energy Studies LPEM FEB UI, Uka Wikarya, menjelaskan bahwa dampak ekonomi AMMAN tidak hanya terlihat pada angka makro, tetapi juga dirasakan langsung oleh masyarakat.
Menurutnya, operasional perusahaan memicu berbagai aktivitas ekonomi turunan di banyak sektor, mulai dari penyediaan pangan, logistik, hingga jasa lainnya yang mendukung kegiatan perusahaan.
“Kebutuhan makanan bagi ribuan karyawan, misalnya, turut menggerakkan usaha petani, peternak, dan pemasok bahan pangan lokal. Begitu pula kebutuhan logistik yang membuka peluang usaha dan pekerjaan di berbagai sektor,” jelasnya.
Kajian tersebut juga mencatat peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui kenaikan pendapatan rumah tangga pekerja di NTB yang mencapai Rp59 triliun selama periode penelitian, atau rata-rata Rp8,4 triliun per tahun.
Selain itu, aktivitas ekonomi yang dipicu oleh operasional AMMAN juga berdampak pada meningkatnya kapasitas fiskal daerah. Hal ini terlihat dari peningkatan transfer pemerintah pusat, termasuk dana bagi hasil, serta bertambahnya penerimaan pajak dan retribusi daerah secara tidak langsung.
Dari sisi ketenagakerjaan, dampak ekonomi AMMAN juga sangat signifikan. Aktivitas perusahaan tercatat menciptakan rata-rata sekitar 36,5 ribu lapangan kerja setiap tahun di NTB.
Pada 2024, jumlah kesempatan kerja yang tercipta dari dampak langsung maupun tidak langsung bahkan mencapai lebih dari 72 ribu pekerjaan yang tersebar di berbagai sektor, seperti pangan, konstruksi, transportasi, dan jasa lainnya yang terhubung dalam rantai pasok perusahaan.
Kajian tersebut juga menyoroti pembangunan fasilitas smelter di NTB sebagai langkah penting dalam memperkuat hilirisasi industri pertambangan nasional. Keberadaan smelter dinilai mampu meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral di dalam negeri, sekaligus memperkuat struktur industri regional.
Dengan kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat, aktivitas AMMAN dinilai memainkan peran strategis dalam mendorong transformasi ekonomi NTB menuju ekonomi yang lebih kuat, berkelanjutan, dan berbasis nilai tambah.












