MATARAM — Kesempatan untuk berpartisipasi dalam pertumbuhan ekonomi perlu terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat. Gagasan ini menjadi salah satu perhatian Komunitas Peduli Inklusi dan Toleransi (KoPITol) Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam mendorong penguatan UMKM, pariwisata, dan ekonomi biru.
Dalam diskusi di Sayung Resto, Kota Mataram, Minggu (25/10/2026), Baiq Dewi Anjani, akademisi UIN Mataram, menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi perlu memberikan ruang bagi masyarakat untuk berkembang secara mandiri.
Ia menyoroti pentingnya penguatan UMKM agar generasi muda dan kelompok rentan memiliki kesempatan yang sama dalam mengembangkan usaha. Untuk mencapai tujuan tersebut, pelaku usaha perlu memperoleh dukungan yang memadai, terutama dalam mengakses pembiayaan, membangun rantai pasok, dan memperluas pemasaran.
Keterbatasan akses terhadap sumber daya dapat menghambat perkembangan usaha meskipun masyarakat memiliki produk dan potensi ekonomi. Karena itu, penguatan UMKM tidak cukup hanya mendorong masyarakat memulai usaha, tetapi juga perlu membantu mereka mempertahankan dan mengembangkan kegiatan ekonominya.
Peluang ekonomi juga dapat diperluas melalui keterhubungan UMKM dengan pariwisata dan sektor kelautan. Pengolahan hasil laut, penjualan produk lokal, serta penyediaan barang dan jasa bagi kegiatan pariwisata merupakan contoh bidang usaha yang dapat dikembangkan sesuai potensi masyarakat setempat.
Selain penguatan ekonomi, KoPITol NTB juga menempatkan inklusi dan toleransi sebagai bagian dari perhatian organisasinya. Kegiatan diskusi tersebut ditutup dengan deklarasi pemuda yang menegaskan komitmen menjaga persatuan serta melawan disinformasi, fitnah, dan kebencian.
Melalui pendekatan tersebut, pembangunan ekonomi dipandang perlu berjalan bersama dengan perluasan kesempatan sosial. Masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat pertumbuhan, tetapi juga memiliki ruang untuk mengambil bagian dalam proses pembangunan daerah.












