Sekolah Rakyat, Kebijakan Presiden Prabowo yang Mengembalikan Harapan Anak

Pojok NTB — Setelah dua tahun berhenti sekolah dan membantu orang tuanya bekerja di perkebunan sawit di Kalimantan, Zahira Al-Zahra kini kembali belajar dan mengejar cita-cita melalui Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 18 Lombok Barat. Saat diwawancarai media di area sekolah, Senin (19/10/2026), siswi asal Batu Layar itu mengungkapkan kebahagiaannya bisa kembali mengenyam pendidikan tanpa membebani orang tua. Baginya, Sekolah Rakyat melalui kebijakan Presiden Prabowo Subianto bukan sekadar tempat belajar gratis, melainkan kesempatan baru untuk membangun masa depan yang sempat tertunda oleh keterbatasan ekonomi keluarga.

“Kesan saya selama berada di Sekolah Rakyat sangat menyenangkan dan luar biasa. Saya bisa kembali bersekolah berkat adanya Sekolah Rakyat ini,” ujar Zahira.

Kesempatan itu membawanya kembali ke ruang kelas sekaligus membuka jalan untuk mengembangkan bakat. Meski belum genap satu tahun bersekolah, Zahira telah menorehkan prestasi di bidang pencak silat dan atletik. Bahkan, ia berhasil lolos ke tingkat nasional dalam cabang pencak silat. Ia juga mendapat pengalaman mengikuti kegiatan paduan suara dalam rangka peringatan 17 Agustus di Jakarta, yang menjadi pengalaman pertamanya menginjakkan kaki di ibu kota.

“Saya sangat senang karena itu merupakan pengalaman pertama saya menginjakkan kaki di Jakarta. Saya sangat bersyukur bisa bersekolah di Sekolah Rakyat karena semua fasilitas disediakan secara gratis sehingga tidak membebani keluarga,” ungkapnya.

Harapan serupa dirasakan Indah Parwati, siswi asal Narmada. Sebelum masuk Sekolah Rakyat, ia bersekolah di SMPN 1 Narmada. Namun, keterbatasan ekonomi membuat keluarganya kesulitan memenuhi kebutuhan pendidikan. Semangat belajarnya sempat menurun dan ia kerap tidak masuk sekolah.

Di Sekolah Rakyat, Indah kembali memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan meskipun harus mengulang dari kelas VII. Baginya, kesempatan untuk kembali belajar jauh lebih berarti daripada persoalan mengulang kelas.

“Meskipun harus mengulang kelas, saya tetap merasa sangat senang karena bisa melanjutkan pendidikan tanpa menambah beban orang tua,” tuturnya.

Kebutuhan sekolah yang dipenuhi melalui program tersebut membuat Indah dapat lebih fokus belajar. Ia pun menyampaikan terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto atas kesempatan untuk kembali bersekolah dan meraih masa depan yang lebih baik.

Harapan baru juga tumbuh pada diri Tania, siswi asal Narmada yang sempat putus sekolah selama satu tahun karena keterbatasan biaya. Di Sekolah Rakyat, ia kembali memperoleh kesempatan belajar sekaligus mengembangkan bakat melalui berbagai kegiatan, seperti lomba tari dan paskibra. Tania kini bercita-cita menjadi anggota TNI Angkatan Laut.

“Saya merasa senang karena selama bersekolah di sini, saya bisa mengikuti berbagai perlombaan dan mengembangkan bakat saya,” ujar Tania.

Kisah Zahira, Indah, dan Tania memperlihatkan bagaimana keterbatasan ekonomi dapat menghambat keberlanjutan pendidikan. Ketika kebutuhan sekolah menjadi beban keluarga, kesempatan belajar dan mengembangkan potensi anak ikut terancam. Sekolah Rakyat memberi mereka ruang untuk kembali belajar, membangun kepercayaan diri, dan mempersiapkan masa depan.

Kepala SRMP 18 Lombok Barat, Satria Irwandi, mengatakan Sekolah Rakyat tidak hanya dirancang untuk memberikan pendidikan tanpa biaya, tetapi juga membentuk karakter dan kemandirian peserta didik melalui sistem berasrama.

“Yang kami bangun di Sekolah Rakyat bukan hanya kemampuan akademik, tetapi juga karakter anak. Mereka dibiasakan hidup disiplin sejak bangun pagi hingga kembali beristirahat. Kami ingin mereka memiliki kepercayaan diri, berani bermimpi, dan yakin bahwa mereka mampu mengubah masa depan keluarganya,” ungkap Satria.

Menurutnya, negara memenuhi kebutuhan peserta didik, mulai dari tempat tinggal, makanan, pakaian, perlengkapan belajar hingga fasilitas penunjang lainnya. Dukungan tersebut membantu anak-anak mengikuti pembelajaran tanpa terbebani biaya kebutuhan dasar, sekaligus membiasakan mereka hidup disiplin dan mandiri.

Setelah program berjalan, Satria melihat perubahan pada peserta didik, terutama dalam kedisiplinan, motivasi belajar, dan keberanian menyampaikan cita-cita. Anak-anak yang sebelumnya kurang percaya diri, bahkan hampir putus sekolah, mulai menunjukkan semangat belajar yang lebih tinggi.

“Harapan kami sederhana, jangan sampai kemiskinan diwariskan kepada anak-anak. Melalui pendidikan yang berkualitas dan pembinaan karakter, kami ingin mereka memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik,” katanya.

Sementara itu, Juru Bicara Pemerintah Provinsi NTB Ahsanul Khalik, menegaskan bahwa perluasan kesempatan pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin merupakan bagian penting dari pembangunan sumber daya manusia NTB. Pendidikan yang bermutu dan berkelanjutan menjadi salah satu fondasi peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), sekaligus membuka peluang bagi generasi muda untuk meningkatkan kemampuan, memperluas pilihan hidup, dan keluar dari kerentanan sosial ekonomi.

Menurutnya, kehadiran Sekolah Rakyat memperlihatkan pentingnya peran negara dalam memastikan keterbatasan ekonomi keluarga tidak menjadi penghalang bagi anak-anak untuk memperoleh pendidikan dan mengembangkan potensi diri. Pemenuhan kebutuhan dasar yang disertai pembentukan karakter dan pengembangan keterampilan diharapkan memperbesar peluang mereka untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Dalam konteks pembangunan NTB, upaya tersebut perlu didukung secara berkelanjutan melalui sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat. Keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari kesempatan anak untuk bersekolah, tetapi juga dari kemampuan mereka menyelesaikan pendidikan, mengembangkan kompetensi, dan berkontribusi bagi keluarga serta masyarakat.

Dari Zahira yang kembali mengejar pendidikan, Indah yang menemukan kembali semangat belajar, hingga Tania yang berani bercita-cita menjadi prajurit TNI Angkatan Laut, Sekolah Rakyat menghadirkan harapan nyata. Sebab, kemiskinan tidak seharusnya menentukan batas masa depan seorang anak. Pendidikan yang berkualitas dan dukungan yang memadai dapat membuka jalan bagi generasi muda untuk tumbuh, berprestasi, meningkatkan kesejahteraan keluarga, dan turut membangun masa depan NTB.