POJOKNTB.com – Institut Agama Islam Indonesia (IAII) Yanmu NW terus memperkuat fondasi kelembagaan sebagai perguruan tinggi keagamaan Islam yang baru berdiri. Komitmen tersebut ditandai dengan pelaksanaan kegiatan “Penguatan Kelembagaan Institut Agama Islam Indonesia Yanmu NW” di Gedung Rektorat IAII Yanmu NW, Praya, Lombok Tengah, Sabtu (12/9/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Prof. Dr. M. Arskal Salim GP, M.Ag., Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia. Dalam kesempatan tersebut, turut dilakukan penyerahan Keputusan Menteri Agama (KMA) kepada Rektor IAII Yanmu NW sebagai bagian dari proses penguatan kelembagaan dan amanah Kementerian Agama kepada IAII Yanmu NW sebagai perguruan tinggi keagamaan Islam yang baru lahir.
Dalam arahannya, Prof. Dr. M. Arskal Salim menegaskan bahwa keberadaan perguruan tinggi baru tidak boleh berhenti pada keberhasilan memperoleh legalitas kelembagaan. Tantangan berikutnya adalah memastikan kehadiran kampus benar-benar memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
“Apa kontribusi kampus baru bagi masyarakat di Lombok, NTB, dan Indonesia?” menjadi salah satu pertanyaan penting yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Menurutnya, pertanyaan tersebut harus menjadi orientasi IAII Yanmu NW dalam menjalankan dan mengembangkan institusi ke depan. Perguruan tinggi tidak cukup hanya memiliki gedung, program studi, dan mahasiswa, tetapi harus mampu menghasilkan lulusan serta pengetahuan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Enam Pilar Pertumbuhan Perguruan Tinggi
Prof. Dr. M. Arskal Salim juga menyampaikan sejumlah hal yang perlu menjadi perhatian IAII Yanmu NW dalam membangun dan mengembangkan institusi. Ia menekankan setidaknya enam pilar penting pertumbuhan dan kemajuan perguruan tinggi.
Pertama, kelembagaan yang sehat dan profesional. Menurutnya, penguatan kelembagaan harus berjalan seiring dengan profesionalisme pengelolaan perguruan tinggi. Seluruh aspek administrasi harus dipastikan lengkap dan tertata.
Ia juga menekankan pentingnya percepatan akreditasi, bahkan sebelum mahasiswa pertama memasuki tahap wisuda. Hal tersebut diperlukan agar perkembangan institusi sejak awal berjalan dalam kerangka mutu yang jelas.
Kedua, pembangunan sumber daya manusia yang unggul. Kualitas perguruan tinggi, menurutnya, sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang dimiliki. Salah satu indikator yang perlu diperhatikan adalah peningkatan jumlah dan kualitas dosen yang bergelar doktor.
Penguatan kapasitas dosen menjadi bagian penting agar IAII Yanmu NW tidak hanya berkembang secara kelembagaan, tetapi juga memiliki kekuatan akademik yang mampu bersaing.
Ketiga, menyiapkan sumber daya manusia menghadapi era kecerdasan buatan (AI). Perkembangan teknologi menuntut perguruan tinggi untuk tidak hanya mengikuti perubahan, tetapi juga mempersiapkan mahasiswa agar mampu beradaptasi dengan dunia yang semakin dipengaruhi kecerdasan buatan.
Karena itu, IAII Yanmu NW didorong untuk membangun ekosistem pendidikan yang mampu membekali mahasiswa dengan kompetensi yang relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan masa depan.
Keempat, membangun keunggulan berbasis lokal. IAII Yanmu NW diharapkan tidak kehilangan akar sosial dan kulturalnya sebagai perguruan tinggi yang tumbuh di Lombok dan Nusa Tenggara Barat.
Keunggulan lokal tersebut dapat diwujudkan melalui pengembangan program studi yang memiliki keterkaitan kuat dengan potensi daerah. Ia memberikan gambaran bahwa program studi seperti akuntansi, misalnya, dapat dikembangkan dengan kekuatan atau kekhususan pada sektor halal tourism yang memiliki relevansi dengan karakter dan potensi NTB.
Dengan demikian, perguruan tinggi tidak hanya mencetak lulusan untuk memenuhi pasar kerja secara umum, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan dan potensi daerah.
Kelima, membangun ekosistem kemitraan. Perguruan tinggi, menurutnya, tidak dapat berkembang sendiri. IAII Yanmu NW perlu membangun jaringan kerja sama dengan berbagai pihak, baik pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, masyarakat, maupun mitra lainnya.
Kemitraan tersebut diharapkan menjadi bagian dari ekosistem yang memperkuat pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, sekaligus membuka ruang yang lebih luas bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman dan kesempatan berkembang.
Keenam, menempatkan mahasiswa sebagai pusat transformasi. Mahasiswa tidak boleh diposisikan hanya sebagai calon pekerja.
Perguruan tinggi, lanjutnya, harus mampu membentuk mahasiswa yang memiliki kemampuan untuk menciptakan peluang dan bahkan membuka lapangan kerja bagi masyarakat.
Karena itu, pendidikan di IAII Yanmu NW perlu diarahkan tidak hanya pada penguasaan pengetahuan akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter, kreativitas, kemandirian, dan kemampuan membaca perubahan zaman.
KMA Bukan Akhir, Melainkan Awal Perjuangan
Penyerahan KMA dalam kegiatan tersebut menjadi momentum penting bagi IAII Yanmu NW. Namun, Prof. Dr. M. Arskal Salim mengingatkan agar capaian tersebut tidak membuat institusi cepat berpuas diri.
Menurutnya, diterimanya KMA justru menandai dimulainya fase perjuangan yang lebih besar.
“Akhirnya KMA sudah diterima, tetapi jangan cepat puas, karena ini adalah awal perjuangan.”
Ia mendorong seluruh sivitas akademika IAII Yanmu NW untuk memiliki keberanian dalam membangun visi besar. Perguruan tinggi yang baru berdiri, menurutnya, harus berani bermimpi dan menyusun langkah strategis untuk mewujudkan cita-cita tersebut.
“Jangan takut bermimpi besar, karena institut ini adalah modal untuk berkontribusi bagi Lombok, NTB, dan Indonesia.”
Pesan tersebut sekaligus menempatkan IAII Yanmu NW bukan sekadar sebagai institusi pendidikan baru, tetapi sebagai bagian dari upaya membangun sumber daya manusia dan peradaban ilmu di Nusa Tenggara Barat.
Dengan diterimanya KMA dan penguatan kelembagaan yang terus dilakukan, IAII Yanmu NW kini menghadapi pekerjaan besar untuk membuktikan bahwa keberadaan perguruan tinggi baru dapat menghadirkan pendidikan yang berkualitas, melahirkan sumber daya manusia unggul, serta memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Bagi IAII Yanmu NW, legalitas merupakan pintu masuk; kualitas, kontribusi, dan kebermanfaatan adalah perjalanan panjang yang harus dibuktikan.












