Pojok NTB – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat sejumlah perkembangan ekonomi NTB sepanjang Juli–Agustus 2026. Mulai dari inflasi, kesejahteraan petani, pariwisata, transportasi, hingga kinerja ekspor-impor.
Kepala BPS Provinsi NTB, Dr. Drs. Wahyudin, MM, dalam Berita Resmi Statistik (BRS) yang dirilis Selasa (1/9/2026), menyebut inflasi NTB pada Agustus 2026 mencapai 4,03 persen secara tahunan (year on year/y-on-y) dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 112,85.
Inflasi tertinggi terjadi di Kota Bima sebesar 4,49 persen, sedangkan terendah tercatat di Mataram sebesar 3,95 persen.
Kenaikan harga terjadi pada seluruh 11 kelompok pengeluaran. Kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami inflasi sebesar 4,82 persen, sementara kenaikan tertinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mencapai 12,57 persen.
BPS mencatat kenaikan harga sejumlah bahan pangan menjadi salah satu pemicu utama inflasi. Di antaranya daging ayam ras, cabai rawit, ikan layang dan ikan tongkol.
Harga daging ayam ras meningkat seiring naiknya permintaan dari SPPG setelah kegiatan sekolah kembali aktif, kemudian diperkuat momentum perayaan Maulid. Sementara harga cabai rawit terdorong produksi yang kurang optimal akibat cuaca panas ekstrem. Kondisi cuaca dan angin kencang juga memengaruhi harga ikan layang dan tongkol.
Di sisi lain, sejumlah komoditas mampu menahan laju inflasi, seperti tomat, bawang merah, bawang putih, biaya sekolah menengah atas dan bensin.
NTP Petani Meningkat
Kabar positif datang dari sektor pertanian. Nilai Tukar Petani (NTP) NTB pada Agustus 2026 mencapai 129,67, naik 1,44 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Kenaikan tersebut didorong oleh Indeks Harga yang Diterima Petani (It) yang meningkat 1,51 persen, lebih tinggi dibandingkan kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) sebesar 0,07 persen.
Lima subsektor mencatat NTP di atas 100, yakni tanaman pangan 125,93, hortikultura 189,58, tanaman perkebunan rakyat 111,09, peternakan 118,96, dan perikanan 113,16.
Kenaikan harga gabah, tembakau, ayam ras pedaging, jagung dan cabai rawit menjadi salah satu faktor yang mendorong peningkatan pendapatan petani.
Okupansi Hotel Naik, Wisnus Tembus 1,4 Juta
Sektor pariwisata NTB juga menunjukkan pergerakan positif pada Juli 2026.
Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang mencapai 51,54 persen, naik 6,68 poin dibandingkan Juni yang berada di angka 44,86 persen. Angka tersebut juga lebih tinggi dibandingkan Juli 2025 yang sebesar 49,92 persen.
Jumlah tamu yang menginap di hotel bintang mencapai 143.079 orang, terdiri dari 84.304 wisatawan domestik dan 58.775 wisatawan mancanegara.
Sementara itu, jumlah wisatawan nusantara yang berkunjung ke NTB mencapai 1.410.478 orang, naik 3,05 persen dibandingkan Juni dan melonjak 15,95 persen dibandingkan Juli 2025.
Peningkatan kunjungan wisatawan nusantara salah satunya didorong event Pocari Run Lombok pada 11–12 Juli 2026 di Pertamina Mandalika International Circuit.
Untuk wisatawan mancanegara yang datang melalui Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM), tercatat 9.039 orang, naik 29,50 persen dibandingkan Juni. Kenaikan terutama berasal dari wisatawan regional Eropa yang meningkat 118 persen.
Pergerakan Penumpang dan Ekspor Menguat
Mobilitas masyarakat melalui jalur laut dan udara domestik juga meningkat. Penumpang datang melalui penerbangan domestik mencapai 129.516 orang, naik 20,59 persen dari Juni.
Penumpang yang berangkat melalui penerbangan domestik tercatat 125.228 orang, naik 19,57 persen.
Sementara melalui pelabuhan laut, jumlah penumpang datang mencapai 123,96 ribu orang dan penumpang berangkat 121,19 ribu orang.
Dari sektor perdagangan luar negeri, kinerja ekspor NTB mencatat pertumbuhan sangat signifikan. Nilai ekspor Januari–Juli 2026 mencapai US$1,518 miliar, naik 368,49 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Khusus Juli 2026, ekspor mencapai US$166,08 juta, meningkat 38,90 persen dibanding Juli 2025.
Komoditas tembaga mendominasi ekspor NTB dengan nilai US$155,36 juta atau 93,55 persen. Pasar utama ekspor NTB pada Juli antara lain Tiongkok, Thailand dan Korea Selatan.
Sebaliknya, nilai impor Januari–Juli 2026 hanya mencapai US$47,87 juta, turun 72,03 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Secara umum, data BPS menunjukkan ekonomi NTB pada pertengahan 2026 bergerak dengan dinamika yang beragam: tekanan harga masih terasa, namun daya tukar petani meningkat, kunjungan wisatawan nusantara menguat, mobilitas masyarakat meningkat, dan kinerja ekspor mencatat lonjakan signifikan.












