Pojok NTB – Permasalahan sampah yang selama ini menjadi tantangan besar di Nusa Tenggara Barat (NTB) berpotensi berubah menjadi sumber energi dan peluang ekonomi baru. Pemerintah Provinsi NTB saat ini tengah menjajaki kerja sama investasi dengan PT Stellio Utama Indonesia, perusahaan yang memiliki teknologi pengolahan sampah ramah lingkungan asal Belanda.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) NTB, Baiq Nelly Yuniarti, mengungkapkan bahwa penjajakan kerja sama tersebut telah ditandai melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pada 10 April 2026. Kerja sama itu difokuskan pada pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik menggunakan teknologi yang mampu mengolah sampah tanpa harus melalui proses pemilahan terlebih dahulu.
“PT Stellio akan mencoba membuat pabrik pengelolaan sampah berbasis teknologi ramah lingkungan yang dapat menghasilkan energi listrik. Menariknya, sampah yang diolah tidak perlu dipilah terlebih dahulu,” ujar Nelly.
Menurutnya, teknologi yang dimiliki perusahaan tersebut menjadi salah satu alasan kuat mengapa pemerintah daerah tertarik menjajaki investasi tersebut. Selama ini, proses pengelolaan sampah sering terkendala karena membutuhkan pemisahan antara sampah organik dan anorganik sebelum diolah.
Dengan teknologi yang ditawarkan Stellio, seluruh sampah dapat langsung masuk ke fasilitas pengolahan dan kemudian dikonversi menjadi energi listrik yang nantinya akan dibeli oleh PLN.
“Ini yang menjadi keunggulannya. Sampah bisa langsung diolah dan hasil akhirnya berupa listrik. Jadi bukan hanya menyelesaikan masalah sampah, tetapi juga menghasilkan energi yang memiliki nilai ekonomi,” jelasnya.
Nelly mengatakan, pihak investor dijadwalkan kembali datang ke NTB pada 9 Juli 2026 untuk membahas tahapan lanjutan dan berbagai aspek teknis terkait rencana investasi tersebut.
Nilai investasi yang disiapkan perusahaan asal Belanda itu pun tidak kecil. Berdasarkan hasil komunikasi awal, investasi yang akan ditanamkan diperkirakan mencapai sekitar Rp1 triliun.
“Angkanya bisa mencapai Rp1 triliun. Mereka melihat sampah sebagai potensi ekonomi yang besar. Kalau di Belanda mereka justru kekurangan sampah sampai harus mendatangkan dari luar, sementara di daerah kita sampah masih menjadi persoalan yang menumpuk,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa minat investor Belanda terhadap NTB cukup tinggi. Bahkan menurut Nelly, awalnya perusahaan tersebut mempertimbangkan wilayah lain sebagai lokasi investasi. Namun setelah melakukan berbagai kajian, perhatian mereka beralih ke NTB.
Selain pertimbangan investasi, hubungan historis dan budaya antara Belanda dan Lombok juga disebut menjadi salah satu faktor yang memperkuat ketertarikan tersebut. Lombok dikenal cukup populer di Belanda, termasuk melalui berbagai koleksi artefak dan catatan sejarah yang tersimpan di museum-museum negara tersebut.
Meski demikian, tantangan utama yang masih harus diselesaikan sebelum proyek berjalan adalah memastikan ketersediaan pasokan sampah dalam jumlah yang memadai untuk memenuhi kebutuhan operasional pabrik.
Berdasarkan kajian awal, fasilitas pengolahan sampah tersebut membutuhkan sekitar 1.000 ton sampah per hari sebagai bahan baku utama. Sementara saat ini sistem pengumpulan sampah dari sumber ke tempat pengolahan masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu diperkuat.
Persoalan bukan terletak pada ketersediaan sampah, melainkan pada sistem pengangkutan dan pengumpulan yang belum sepenuhnya terintegrasi. Infrastruktur pendukung seperti armada pengangkut, tempat penampungan sementara, hingga sistem distribusi sampah dari berbagai wilayah harus dipersiapkan agar pasokan bahan baku tetap terjaga.
Karena itu, pemerintah daerah bersama investor akan membahas berbagai skema teknis agar kebutuhan sampah harian dapat terpenuhi ketika fasilitas mulai beroperasi.
Jika terealisasi, proyek ini diproyeksikan menjadi salah satu solusi jangka panjang bagi persoalan sampah di NTB. Selain mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir, keberadaan pabrik tersebut juga berpotensi menghasilkan energi listrik, membuka lapangan kerja baru, serta mendukung target pembangunan berkelanjutan yang tengah didorong pemerintah daerah.
Bagi NTB, investasi ini bukan sekadar pembangunan fasilitas pengolahan sampah, tetapi juga menjadi simbol perubahan cara pandang terhadap sampah yang selama ini dianggap sebagai masalah. Melalui teknologi modern, sampah justru dapat diubah menjadi sumber energi dan peluang ekonomi bernilai miliaran rupiah.












