Dua Data Stunting NTB, SSGI Naik, EPB-GBM Justru Turun Tajam

Pojok NTB — Kepala BKKBN Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Makripuddin, mengungkapkan bahwa angka stunting di NTB saat ini tercatat dalam dua versi data dengan hasil yang berbeda. Data survei nasional menunjukkan tren kenaikan, sementara data pemantauan rutin di lapangan justru mencatat penurunan signifikan.

Makripuddin menjelaskan, berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting di NTB mengalami kenaikan dari sekitar 24 persen menjadi 29 persen dalam periode 2020–2023 hingga 2024. Sementara itu, untuk tahun 2025, survei SSGI belum dilakukan.

“SSGI itu survei berbasis sampel yang dilakukan rutin setiap tahun. Dari hasil terakhir, memang menunjukkan peningkatan dari 24 persen menjadi sekitar 29 persen,” ujarnya di Mataram, Selasa (10/2/2026).

Namun, data berbeda ditunjukkan oleh sistem pencatatan rutin berbasis Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPB-GBM). Melalui sistem ini, angka stunting di NTB pada 2025 tercatat turun signifikan hingga sekitar 13 persen.

“EPB-GBM ini data riil yang dicatat setiap bulan oleh petugas gizi di lapangan melalui puskesmas. Data 2025 menunjukkan penurunan cukup besar, sekitar 13 persen,” jelasnya.

Ia menambahkan, perbedaan angka tersebut dipengaruhi oleh metode pengumpulan data yang berbeda. SSGI menggunakan metode survei dengan pengambilan sampel, sedangkan EPB-GBM bersumber dari pencatatan rutin seluruh sasaran di lapangan.

Meski terdapat perbedaan data, Makripuddin menegaskan bahwa penurunan angka stunting dalam EPB-GBM menjadi sinyal positif hasil kerja bersama seluruh pihak di NTB.

“Ini tentu hasil kolaborasi semua pihak. Harapan kita ke depan angka stunting terus mengalami penurunan,” pungkasnya.