Pojok NTB — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tengah menyiapkan pembangunan pabrik pakan ternak sebagai bagian dari proyek besar hilirisasi ayam terintegrasi yang didukung pendanaan dari Danantara. Proyek ini dirancang dari hulu hingga hilir dan ditargetkan mampu menggerakkan ekonomi di berbagai kabupaten/kota di NTB.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Provinsi NTB, Riadi, menjelaskan bahwa program tersebut mencakup pembangunan pabrik pakan, parent stock (PS), grandparent stock (GPS), hingga pengolahan hasil ternak.
“Ini konsepnya hilirisasi ayam terintegrasi. Jadi dibangun dari hulu sampai hilir, ada pakannya, ada parent stock, ada grandparent stock yang nantinya hasil produksinya bisa dinikmati masyarakat,” kata Riadi di Mataram, Rabu (4/2/2026).
Riadi menyebutkan, pabrik pakan ternak diusulkan dibangun di kawasan Dombu. Sementara untuk pembangunan parent stock direncanakan berlokasi di Kabupaten Sumbawa, di atas lahan milik Pemerintah Provinsi NTB seluas sekitar 13 hektare. Adapun fasilitas pengolahan hasil ternak diusulkan dibangun di wilayah Lama Tengah.
“Supaya terdistribusi, jadi di semua kabupaten ada pergerakan ekonomi,” ujarnya.
Menurut Riadi, total nilai investasi proyek hilirisasi ayam terintegrasi ini mencapai sekitar Rp1,7 triliun. Anggaran tersebut mencakup pembangunan pabrik pakan, fasilitas pengolahan, parent stock, hingga grandparent stock. Sementara khusus pembangunan pabrik pakan ternak, dialokasikan dana sekitar Rp17 miliar dari Danantara.
Pendanaan proyek ini akan dikelola melalui PT Berdikari yang ditunjuk sebagai pihak pelaksana. PT Berdikari juga bertugas mencari mitra usaha untuk masing-masing sektor, baik pakan, parent stock, maupun grandparent stock.
“PT Berdikari yang mencari mitra. Mereka punya analisis usaha sendiri dan akan menggandeng pihak yang memenuhi syarat,” jelasnya.
Untuk tahap awal, kata Riadi, pembangunan akan dimulai dengan groundbreaking fasilitas parent stock. Awalnya, groundbreaking direncanakan berlangsung pada 3 Februari 2026, namun pelaksanaannya masih menunggu kesiapan dan agenda Presiden.
“Yang duluan kita mulai itu parent stock. Rencananya memang tanggal 3 kemarin, tapi kita tunggu jadwal berikutnya,” katanya.
Proyek hilirisasi ayam terintegrasi ini merupakan program nasional yang akan dilaksanakan serentak di lima provinsi, yakni Jawa Timur, Lampung, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Timur.
Riadi berharap proyek ini tidak hanya memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga memenuhi kebutuhan masyarakat akan telur dan daging ayam, sekaligus memaksimalkan potensi jagung lokal NTB sebagai bahan baku pakan ternak.
“Ini kan untuk kebutuhan masyarakat juga, mulai dari telur sampai daging ayam. Bahan baku kita ada, jagung kita melimpah. Tinggal kita bangun industrinya,” pungkasnya.











