Pojok NTB – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat sebanyak 73.844 anak mengalami putus sekolah. Data tersebut menjadi perhatian serius dalam perencanaan sektor pendidikan daerah.
Kepala BAPPEDA NTB, Baiq Nelly Yuniatri, mengatakan penyebab utama putus sekolah bukan karena ketiadaan sekolah atau guru, melainkan faktor ekonomi, terutama mahalnya biaya seragam sekolah.
“Sekolah sebenarnya gratis. Tapi seragam SMA bisa mencapai jutaan rupiah. Bagi keluarga tidak mampu, ini jadi alasan anak tidak melanjutkan sekolah,” ujarnya di mataram, Jumat (30/01/2026).
Selain faktor ekonomi, putus sekolah juga dipengaruhi oleh anak yang memilih bekerja lebih dulu, menikah di usia muda, hingga minimnya akses terhadap pendidikan nonformal seperti Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).
Sebagai langkah solusi, Pemprov NTB mendorong kerja sama dengan DPRD melalui pokok-pokok pikiran (pokir) agar pengadaan seragam sekolah bagi masyarakat miskin bisa dimasukkan dalam menu bantuan. Selama ini, bantuan pemerintah lebih banyak difokuskan pada alat tulis dan perlengkapan sekolah.
“Menu pengadaan seragam ini akan kita perbaiki dalam perencanaan ke depan, supaya bantuan benar-benar menyentuh akar masalah,” jelas Nelly.
Pemprov NTB juga menaruh perhatian khusus pada jenjang SMA, yang menjadi kewenangan provinsi, agar anak-anak minimal dapat menyelesaikan pendidikan hingga tamat sekolah menengah.













