Dari Anyaman Leluhur ke Pasar Hotel, Perjuangan Baiq Sumardian Angkat Kerajinan Lombok

Pojok NTB — Kerajinan anyaman yang dulu hanya dibuat untuk kebutuhan sendiri, kini menjelma menjadi produk bernilai ekonomi tinggi dan menghiasi hotel-hotel ternama di Lombok. Di balik perjalanan panjang itu, ada sosok inspiratif bernama Baiq Sumardian, perajin yang konsisten mengangkat warisan leluhur menjadi sumber penghidupan banyak orang.

Baiq Sumardian menceritakan, pada awalnya kerajinan anyaman di Lombok hanyalah kegiatan turun-temurun dari nenek moyang, sekadar untuk dipakai sendiri. Namun seiring waktu, potensi besar dari kerajinan tersebut mulai dilirik dan dikembangkan.

“Dulu kerajinan ini hanya dibuat untuk pakai sendiri. Tapi kemudian dinas melihat potensi yang ada di Lombok, lalu dikembangkan melalui pelatihan-pelatihan,” ujarnya.

Kerajinan yang ditekuni Baiq Sumardian menggunakan bahan-bahan alami seperti rotan, bambu, dan keta, sejenis rumput yang tumbuh di hutan. Ia mulai terjun ke dunia produksi sejak tahun 1995–1996. Meski bukan asli daerah setempat, ikatan keluarga dan sejarah membuatnya mantap menetap dan berkarya.

Awalnya, keterampilan menganyam ia pelajari secara otodidak. Namun keterbatasan desain membuat produknya sulit berkembang. Titik balik terjadi ketika pemerintah melalui dinas terkait memberikan pelatihan, sehingga desain dan kualitas produk meningkat signifikan.

Kini, beragam produk dihasilkan, mulai dari koster, placemat, tutup saji, tempat buah, tempat air mineral, laundry box, tempat sampah, tempat lampu, wall decor, hingga berbagai aksesori seperti tas, anting, gelang, dan cepit rambut.

Usahanya tak hanya berdampak pada dirinya sendiri. Baiq Sumardian melibatkan banyak pelaku home industry di desa-desa sekitar. Dengan sistem supervisor di tiap kampung, pesanan dalam jumlah besar dapat dikerjakan secara kolektif.

“Kalau ada pesanan besar, saya tidak kerja sendiri. Saya punya supervisor di setiap kampung untuk mengontrol produksi,” jelasnya.

Dalam satu bulan, pesanan bisa mencapai ribuan unit, dengan pengiriman bertahap setiap minggu. Produk-produknya telah digunakan di lebih dari 15 hingga 20 hotel, termasuk hotel-hotel besar di Senggigi dan Kuta. Nilai kontrak kerja sama bahkan bisa mencapai Rp50–60 juta untuk satu proyek pengisian perlengkapan kamar dan spa.

Mulai dari koster, napkin ring, tempat lampu, hingga dekorasi dinding dan plafon berbahan rotan, semuanya dirancang dan diproduksi oleh tangan-tangan lokal.

Kisah Baiq Sumardian menjadi bukti bahwa kerajinan tradisional, jika dikelola dengan ketekunan, inovasi, dan kolaborasi, mampu tumbuh menjadi industri kreatif yang memberdayakan masyarakat serta mengangkat identitas budaya Lombok ke tingkat yang lebih tinggi.