Pojok NTB — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) melalui Bappeda mulai menjajaki peluang kerja sama strategis dengan Sahaja untuk memperkuat upaya pencegahan dan penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS). Penjajakan tersebut dilakukan melalui pertemuan daring (zoom meeting) yang digelar di Bappeda NTB.
Co-Founder dan Direktur Sahaja, Putri Kusuma Amanda, menjelaskan bahwa pertemuan ini bertujuan memetakan berbagai peluang kolaborasi yang relevan dengan kebutuhan dan tantangan pembangunan di NTB, khususnya di sektor pendidikan.
“Salah satu fokus utama kami adalah isu Anak Tidak Sekolah. Pertemuan ini menjadi langkah awal untuk menyelaraskan kebutuhan Pemprov NTB dengan program dan keahlian yang dimiliki Sahaja,” ujarnya.
Putri mengungkapkan, ketertarikan Sahaja untuk berkontribusi lebih jauh di NTB dilatarbelakangi oleh sejumlah tantangan unik yang dihadapi daerah ini. Sebagai provinsi kepulauan, NTB memiliki kesenjangan geografis yang cukup tinggi, di mana anak-anak di wilayah perdesaan memiliki risiko putus sekolah hingga dua kali lipat dibandingkan anak di perkotaan.
Selain itu, data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mencatat sedikitnya 73.844 anak di NTB masuk kategori tidak sekolah. Angka tersebut dinilai membutuhkan penanganan serius dan kolaboratif lintas sektor.
Menurut Putri, keberadaan Program Desa Berdaya menjadi salah satu aset strategis NTB. Sahaja melihat potensi besar program ini untuk dijadikan sebagai basis sistem pencegahan Anak Tidak Sekolah yang berbasis komunitas.
“Desa Berdaya bisa menjadi ‘home base’ untuk sistem pencegahan yang melibatkan masyarakat secara langsung,” jelasnya.
Ke depan, Sahaja menawarkan kemitraan strategis dengan Pemprov NTB yang mencakup dukungan penjangkauan dan pendampingan anak serta keluarga, penguatan kapasitas kader desa dan masyarakat, hingga penyusunan panduan teknis, rencana aksi daerah, dan rekomendasi kebijakan.
Dalam pertemuan tersebut, Sahaja juga menyatakan kesiapan mendukung implementasi program Desa Belajar yang difokuskan pada penurunan angka Anak Tidak Sekolah, penguatan literasi digital, serta peningkatan kapasitas sekolah.
Putri mengaku terkesan dengan keseriusan Kepala Bappeda NTB dalam mendorong pencapaian program prioritas daerah. Ia menilai keterbukaan Bappeda terhadap kolaborasi lintas pihak akan memperluas peluang NTB untuk semakin berdaya, mulai dari desa hingga ke tingkat global.
“Ini pertemuan pertama, tetapi kami yakin bukan yang terakhir. Sahaja berkomitmen memberikan dukungan jangka panjang secara efektif dan berkelanjutan,” tegasnya.
Selain pendidikan, Sahaja juga membuka peluang kolaborasi pada berbagai isu lain sesuai bidang keahlian mereka, seperti GEDSI, administrasi kependudukan, reformasi hukum, dan perlindungan sosial, demi mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat NTB secara menyeluruh.













