NTB Siapkan Sekolah Khusus Anak Migran, Gubernur Iqbal Soroti Anak yang Ditinggal Orang Tua Bekerja

Pojok NTB – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) berencana membangun sekolah khusus bagi anak-anak migran yang orang tuanya bekerja di luar daerah maupun luar negeri. Program ini digagas sebagai bentuk perhatian terhadap anak-anak yang selama ini tumbuh tanpa pendampingan langsung dari orang tua karena dititipkan kepada keluarga, terutama kakek dan nenek mereka.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi NTB, Baiq Nelly Yuniarti, mengatakan gagasan tersebut menjadi perhatian serius Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal setelah melihat langsung kondisi sejumlah anak migran di daerah.

Menurut Nelly, anak-anak yang sebelumnya dibawa dan diperlihatkan kepada gubernur menjadi gambaran nyata kondisi yang dialami banyak keluarga migran di NTB.

“Anak-anak yang kami bawa kemarin, anak-anak seperti inilah yang nantinya akan ditampung dalam sekolah anak migran yang akan dibangun oleh Pak Gubernur,” ujar Nelly.

Ia menjelaskan, keberadaan sekolah khusus tersebut diharapkan tidak hanya menjadi tempat pendidikan formal, tetapi juga ruang pembinaan karakter, pendampingan psikologis, serta penguatan tumbuh kembang anak.

Fenomena anak yang ditinggal orang tua bekerja, terutama sebagai pekerja migran, memang cukup banyak ditemukan di NTB. Tidak sedikit anak yang sehari-hari diasuh oleh kakek dan nenek karena orang tua mereka mencari nafkah di luar daerah atau luar negeri.

“Di NTB banyak anak migran yang orang tuanya bekerja dan mereka dititipkan kepada neneknya,” kata Nelly.

Pemerintah Provinsi NTB menilai kondisi tersebut membutuhkan perhatian khusus. Selain memastikan hak pendidikan terpenuhi, pemerintah juga ingin menghadirkan lingkungan yang mampu mendukung perkembangan emosional dan sosial anak-anak migran.

Rencana pembangunan sekolah anak migran ini menjadi salah satu langkah strategis Pemprov NTB dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, sekaligus memberikan perlindungan dan pendampingan bagi anak-anak yang terdampak migrasi tenaga kerja.

Apabila terealisasi, sekolah tersebut diharapkan menjadi model pendidikan yang responsif terhadap kebutuhan anak migran, sehingga mereka tetap memperoleh pengasuhan dan pendidikan yang optimal meskipun terpisah dari orang tua mereka karena faktor pekerjaan.