Pojok NTB – Di tengah gempuran makanan modern, jajan tradisional Lombok justru tetap bertahan—bahkan makin diburu wisatawan. Dari pasar tradisional hingga festival kuliner, cita rasa khas warisan leluhur ini terus menggoda lidah dan menyimpan cerita budaya yang tak lekang oleh waktu.
Salah satu primadona adalah Kue Cerorot. Dibungkus janur berbentuk kerucut, kue ini punya tekstur lembut dengan rasa manis legit dari gula aren. Cerorot bukan sekadar camilan, tapi juga bagian penting dalam tradisi masyarakat Sasak, khususnya saat acara adat dan hari besar keagamaan.
Tak kalah menarik, Jaje Tujak hadir dengan proses pembuatan yang unik. Ketan, kelapa, dan gula merah ditumbuk bersama hingga menyatu, menciptakan tekstur kenyal dengan rasa gurih-manis yang khas. Proses ini biasanya dilakukan secara gotong royong, mencerminkan nilai kebersamaan masyarakat Lombok.
Sementara itu, Klepon Lombok menawarkan sensasi “meledak” di mulut. Bola-bola ketan berisi gula cair ini menjadi favorit banyak orang, apalagi dengan taburan kelapa parut segar yang menambah kenikmatan.
Ada juga Abon Ikan Tongkol Lombok yang unik. Berbeda dari abon pada umumnya, olahan ini menghadirkan rasa gurih dan pedas khas Lombok, cocok dijadikan camilan maupun oleh-oleh.
Secara data, Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat mencatat bahwa wisata kuliner menjadi salah satu alasan utama wisatawan datang ke Lombok. Bahkan, lebih dari 60% wisatawan domestik mengaku tertarik mencoba makanan khas daerah saat berkunjung. Sementara itu, data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa sektor kuliner menyumbang porsi besar dalam ekonomi kreatif NTB, dengan dominasi produk berbasis makanan tradisional.
Tak hanya itu, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia juga активно mendorong pengembangan wisata kuliner sebagai bagian dari strategi menarik wisatawan, termasuk di Lombok. Festival kuliner, promosi UMKM, hingga digitalisasi produk lokal menjadi langkah nyata untuk menjaga eksistensi jajan tradisional ini.
Menariknya, di balik kelezatannya, jajan tradisional Lombok juga sarat makna. Dalam tradisi “gawe” masyarakat Sasak, berbagai kue tradisional wajib disajikan sebagai simbol syukur, kebersamaan, dan identitas budaya.
Kini, di era modern, jajan tradisional Lombok bukan hanya sekadar camilan—tetapi juga menjadi daya tarik wisata, sumber ekonomi, dan kebanggaan daerah. Rasanya yang autentik dan proses pembuatannya yang masih tradisional menjadikannya tak tergantikan.
Jajan tradisional Lombok bukan hanya enak, tapi juga penuh nilai budaya dan potensi ekonomi. Dari Cerorot hingga Tujak, semuanya punya cerita—dan satu kesamaan: bikin siapa pun ingin kembali mencicipi.












