Sebelum perang Iran vs Israel AS semua analis sudah menyimpulkan dua hal yakni (1) pasokan minyak akan terganggu lalu harga minyak akan naik, (2) Petro dollar akan suprem kembali, uang dollar akan diprinting lagi untuk membiayai ekonomi dunia yang runtuh. Tapi kesimpulan kedua tidak akan terjadi karena kegagalan perang dalam menciptakan krisis energi.
Perang ini merupakan rangkaian dari dua perang sporadis sebelumnya yakni perang Russia vs Ukraina Eropa, perang AS vs Venezuela.
Kesemua perang ini membawa tema yang sama yakni dari memulihkan kembali minyak sebagai pengatur ekonomi dunia. Mengembalikan minyak bukan sekedar sebagai bahan bakar tapi sebagai mesin pencetak uang. Namun kegagalan perang menciptakan krisis energi akan menjadi pangkal kegagalan semua rencana ini.
Jika perang gagal menciptakan krisis energi, lalu bagaimana perang dapat menciptakan krisis keuangan dan ekonomi. Kalau krisis keuangan dan ekonomi gagal diciptakan bagaimana the Federal Reserve akan dapat mengembalikan legitimasinya dalam membuat uang?
Mari kita ulas dari krisis energi. Minyak memang selalu diandalkan sebagai alat untuk membuat krisis. Namun dunia sekarang telah bergerak semakin jauh, bahkan menuju era yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya yakni era dunia Free energi. Ini tidak akan kita lihat sekarang, namun berbagai komunitas global sudah memperlihatkan karya karya mereka bahwa listrik bisa dihasilkan secara gratis tanpa bahan bakar fosil.
Jadi krisis minyak tidak mungkin dapat diwujudkan dengan perang ini. Sumber minyak dari selat Hormuz hanya 20 persen dari pasokan minyak global saat ini. Jumlah tersebut telah setara dengan peran energi non fosil di seluruh dunia yang jumlahnya sudah mendekati 20 persen juga. Jadi keadaan sekarang sudah semakin kebal dengan ulah pemain minyak.
Jadi keinginan untuk membuat krisis dengan perang ini tampak masih jauh panggang dari api. Semua harus belajar dari covid 19 bagaimana usaha menciptakan krisis dengan covid berantakan begitu saja dan sekarang telah mulai dilupakan kalau krisis ini ada.
Ada yang selalu menarik dari setiap usaha elite global dalam membuat krisis adalah harga komoditas yang menjadi andalan ekonomi Indonesia selalu naik disaat wabah, konflik dan perang. Tapi Indonesia bukanlah pengatur semua ini. Indonesia selalu ingin berbuat baik pada dunia sebagaimana Amanat Pembukaan UUD 1945. Di masa covid 19 harga batubara naik hingga 400 dollar per ton, juga semua komoditas lainnya naik secara fantastis. Hal yang sama juga terjadi sekarang ini saat perang Iran vs AS Israel.
Jadi selama Indonesia tidak ikut krisis dunia akan baik baik saja. Walaupun AS dan Iran Bersatu sekalipun mereka tidak akan sanggup untuk membuat krisis energi dan krisis ekonomi global. Namun yang perlu dipastikan oleh Indonesia, oleh Presiden Prabowo adalah kenaikan harga komoditas kali ini harus menjadi tabungan bagi pembangunan ekonomi nasional dan usaha membatu perdamaian dunia.
