Pojok NTB – Perjumpaan dua hari besar agama yang waktunya sangat berdekatan selalu menjadi momen penting bagi kehidupan sosial masyarakat. Pada tahun 2026, masyarakat Nusa Tenggara Barat menghadapi situasi yang cukup unik: Hari Raya Nyepi jatuh pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 05.59 hingga Jumat, 20 Maret 2026 pukul 06.00 WITA, sementara Hari Raya Idul Fitri diperkirakan berlangsung pada malam Jumat, 20 Maret 2026 atau Sabtu, 21 Maret 2026.
Dalam rentang waktu yang hampir bersamaan ini, dua tradisi ibadah dengan karakter yang sangat berbeda akan berlangsung berdampingan. Nyepi identik dengan keheningan total, tanpa aktivitas, tanpa suara, bahkan tanpa cahaya di banyak tempat.
Sementara Idul Fitri biasanya diawali dengan malam takbiran yang penuh gema takbir dan aktivitas masyarakat. Perbedaan ini secara teoritis bisa memicu gesekan, tetapi justru menjadi ruang pembuktian kedewasaan sosial masyarakat NTB.
Secara demografis, Nusa Tenggara Barat merupakan salah satu provinsi dengan komposisi penduduk Muslim terbesar di Indonesia. Data Kementerian Agama menunjukkan bahwa sekitar 97 persen penduduk NTB atau sekitar 5,49 juta jiwa beragama Islam dari total populasi sekitar 5,65 juta jiwa. Sementara itu, pemeluk agama Hindu tercatat sekitar 133 ribu jiwa atau sekitar 2,37 persen dari total penduduk.
Komposisi ini menunjukkan bahwa umat Hindu merupakan minoritas di provinsi tersebut. Namun, dalam praktik sosial sehari-hari, keberadaan minoritas ini tetap mendapatkan ruang untuk menjalankan tradisi keagamaannya secara bebas dan dihormati.
Justru di sinilah letak pentingnya toleransi: ketika mayoritas mampu memberikan ruang aman bagi minoritas, dan minoritas juga menghormati tradisi mayoritas.
NTB selama ini dikenal dengan falsafah sosial masyarakatnya yang kuat, seperti nilai “saling ajin” atau saling menghormati dalam budaya Sasak. Nilai tersebut bukan sekadar jargon budaya, tetapi tercermin dalam kehidupan sosial masyarakat.
Ketika Nyepi berlangsung, masyarakat di sejumlah wilayah yang mayoritas Muslim tetap menghormati suasana hening yang menjadi inti ibadah umat Hindu. Sebaliknya, umat Hindu juga menghormati aktivitas ibadah umat Muslim, terutama selama bulan Ramadan dan menjelang Idul Fitri.
Kedekatan waktu antara Nyepi dan Idul Fitri pada tahun ini seharusnya tidak dilihat sebagai potensi konflik, tetapi sebagai kesempatan memperlihatkan wajah toleransi yang sebenarnya.
Dalam konteks Indonesia yang majemuk, toleransi tidak cukup hanya dalam bentuk pernyataan formal atau slogan kebangsaan. Toleransi harus hadir dalam praktik sehari-hari, dalam keputusan-keputusan kecil masyarakat, seperti mengatur kegiatan agar tidak mengganggu ibadah umat lain.
Pengalaman di berbagai daerah menunjukkan bahwa pengaturan sosial seperti ini sangat mungkin dilakukan. Bahkan dalam beberapa kasus di Indonesia, perayaan takbiran yang berdekatan dengan Nyepi dapat disesuaikan dengan pembatasan suara atau waktu demi menghormati kedua tradisi tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa dialog dan kompromi sosial selalu menjadi kunci dalam menjaga harmoni kehidupan beragama.
Lebih jauh lagi, toleransi bukan hanya persoalan hubungan antaragama, tetapi juga menjadi fondasi stabilitas sosial dan pembangunan daerah. Daerah yang mampu menjaga kerukunan antarumat beragama biasanya memiliki stabilitas sosial yang lebih baik.
Stabilitas tersebut pada akhirnya berdampak pada sektor ekonomi, pariwisata, dan investasi. NTB sendiri dikenal sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Indonesia, terutama dengan kehadiran kawasan pariwisata seperti Lombok dan Mandalika yang menarik wisatawan dari berbagai negara dan latar belakang budaya.
Karena itu, menjaga toleransi bukan hanya kewajiban moral, tetapi juga kebutuhan strategis bagi masa depan daerah. Kerukunan antarumat beragama merupakan modal sosial yang sangat berharga. Tanpa kerukunan, pembangunan tidak akan berjalan dengan baik.
Momen berdekatan antara Nyepi dan Idul Fitri tahun 2026 pada akhirnya menjadi semacam ujian sosial bagi masyarakat NTB. Apakah masyarakat mampu menjaga tradisi saling menghormati yang selama ini menjadi kebanggaan daerah?
Jika masyarakat NTB mampu melewati momen ini dengan damai dan penuh penghormatan, maka pesan yang disampaikan bukan hanya untuk Indonesia, tetapi juga untuk dunia: bahwa keberagaman bukanlah ancaman, melainkan kekuatan.
Di tengah dunia yang sering kali diwarnai konflik identitas dan perbedaan agama, harmoni yang ditunjukkan masyarakat NTB dapat menjadi contoh bahwa toleransi bukan sekadar konsep, melainkan praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari.












